Minggu, 09 November 2008

panduan penulisan skripsi

I. PENDAHULUAN

Insan ilmiah sudah seharusnya mampu menyajikan dan membuat karya ilmiah sendiri dalam bentuk tulisan. Oleh sebab itu mahasiswa sebagai bagian dari kelompok masyarakat ilmiah juga harus mau berlatih, belajar menulis karya ilmiah yang pada bagian akhir perkuliahannya pun akan dituntut untuk membuat dan menyajikan karya ilmiahnya dalam bentuk makalah ilmiah, tugas akhir, skripsi untuk jenjang S-1, sedangkan untuk S-2 mahasiswanya dituntut meneyelasaikan tesis dan untuk jenjang pendidikan S-3 diwajibkan menyelesaikan disertasi.
Khusus di program studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat dibuatlah buku panduan penulisan proposal dan skripsi ini dengan harapan terdapatnya kesamaan persepsi tentang tekhnik dasar penulisan skripsi untuk mahasiswanya. Dengan adanya buku panduan ini diharapkan mahasiswa memiliki format dasar yng sama dalam melakukan tahap demi tahap proses yang harus dilalui dalam penulisan karya ilmiah, sehingga standar-standar tulisan ilmiah yang diharapkan dapat tercapai.
Sebagai sebuah standar penulisan ilmiah di lingkungan program studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat, buku pedoman ini mengacu pada berbagai literatur yang relevan antara lain : Pedoman Penulisan Skripsi dan Makalah STKIP PGRI Sumatera Barat yang telah ada sebelumnya, Pedoman Penyajian Karya Ilmiah Seri Pustaka IPB, Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi Sejarah keluaran Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang, Pedoman Penulisan Proposal Penelitian dan Tesis terbitan Program Pascasarjanan Universitas Andalas, Panduan Pelaksanaan Hibah Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Program Kreativitas Mahasiswa, Edisi VII oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, disamping referensi lainnya.




II. ATURAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
STKIP PGRI SUMATERA BARAT

Syarat mahasiwa yang bisa ikut menyajikan (seminar) proposal dan diuji dalam ujian skripsi adalah :
1. Telah mengikuti seminar proposal minimal 5 kali, yang dibuktikan dengan kartu hadir seminar.
2. Mahasiswa yang menyajikan proposalnya minimal telah menyelesaikan 110 sks perkuliahan, sedangkan bagi yang ujian skripsi haruslah telah menyelesaikan seluruh mata kuliah.
3. Telah menyelesaikan konsultasi proposal dan skripsi dengan dosen pembimbing dan ini terbukti dengan diberinya izin untuk seminar proposal atau ujian skripsi oleh pembimbing.
4. Siap, sehat, dan bersedia mengikuti seminar proposal dan ujian skripsi dengan baik minimal 15 rangkap.
5. Memperbanyak proposal dan skripsi, sesuai dengan jumlah dosen yang ditunjuk.
6. Menyerahkan perbanyakan proposal dan skripsi minimal seminggu sebelum seminar atau ujian skripsi dilangsungkan.
7. Peserta ujian diwajibkan mengenakan pakaian rapi, bersih, dengan baju warna putih dan celana / rok warna hitam.
8. Pembimbing harus hadir saat seminar atau ujian skripsi berlangsung. Minimal salah seorang dari 2 orang pembimbing yang telah ditunjuk.
9. Nilai ujian skripsi berasal dari akumulasi nilai-nilai yang diberikan pembimbing, penguji.





III. PROPOSAL PENELITIAN

PENGERTIAN PROPOSAL
Proposal adalah suatu rencana, yang kalau diterjemahkan rencana itu terkadang diterima bahkan ada kemungkinan di tolak, tentu dengan alasan yang menguatkan tentang keberadaanya apakah diterima atau ditolak. Proposal dapat diartikan secara sederhana dengan: Suatu pernyataan tentang sebuah rencana yang mempunyai tujuan tertentu dengan langkah-langkah kegiatan yang direncanakan sebaik mungkin[1]. Secara sederhana proposal akan mencakup: pernyataan suatu program atau rencana tertentu, janji untuk melakukan sesuatu, rencana penelitian dan yang terakhir adalah mengikuti alur, renca kerja dan jadwal kerja.
Untuk menyusun sebuah proposal penulis seharusnya telah memiliki pengetahuan awal atau Penelitian penjajakan awal tentang bahasan atau persoalan yang akan ditelitinya. Bahkan secara garis besar dapat dijelaskan bahwa seorang yang telah memiliki proposal yang bagus, matang telah memiliki 50 % data dari penyelesaian tulisan ilmiahnya.

BAGIAN-BAGIAN DALAM PROPOSAL PENELITIAN SEJARAH

Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah adalah bagian awal dari sebuah proposal penelitian. Bagian ini merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa sebuah topik penelitian yang diusulkan oleh mahasiswa itu layak diteliti. Didalamnya terdapat argumen ilmiah yang dipaparkan berkaitan dengan kebaruan (novelty) topik penelitian dan relevansinya dengan masa sekarang sehingga patut diteliti. Dengan demikian latar belakang masalah dalam sebuah penelitian atau proposal penelitian berisikan alasan atau argumen apa pentingnya masalah tersebut diangkat menjadi sebuah penelitian ilmiah.
Masalah penelitian secara ilmiah diawali dengan melihat adanya perbedaan antara konsep ideal (das solen) dengan realitas (das sein). Pada bagian latar belakang ini juga telah mulai diidentifikasi pokok masalah yang akan diteliti. Penelitian ini dapat dilakukan dengan dasar survey kepustakaan, dengan menunjukkan ada aspek atau dimensi yang belum ditulis atau perlu ditinjau kembali. Jadi perlu digaris bawahi bahwa pada latar belakang masalah tidak menuliskan latar belakang sejarah atau latar belakang peristiwa dari topik yang diteliti. Bagian ini, tegasnya harus memuat latar belakang penulis memilih topik tersebut.
Dengan membaca sub bab ini orang akan paham atau mengerti alasan atau dasar pemikirannya kenapa kita memilih topik atau masalah tersenut.

Batasan dan Rumusan Masalah
Pada bagian ini masalah harus dirumuskan secara lebih tegas. Apa persisnya masalah yang akan dibahas dalam rancangan penelitian. Biasanya dimunculkan dalam bentuk pertanyaan penelitan (reseach question).
Studi sejarah memiliki 3 batasan masalah:
1). Ruang lingkup masalah, apa masalah yang akan diteliti dan yang tidak akan diteliti.
2). Batasan geografis (scope spatial) , yaitu menerangkan batasan ruang lingkup secara geografis.
3). Batasan waktu (scope temporal), yaitu menjelaskan batasan waktu dan sekaligus menerangkan mengapa batasan waktunya dibuat demikian.
Dalam model penelitian sejarah ada dua kualifikasi pertanyaan yang berpengaruh kepada bobot jawaban yang diberikan.
Pertama, Pertanyaan deskriptif yaitu mengajukan pertanyaan SIAKIB (Siapa, Apa, Kapan, Dimana, dan Bagaimana).
Kedua, Pertanyaan analitik, biasanya diajukan dengan kata-kata ”mengapa”. Artinya jawaban pertanyaan memerlukan penjelasan (eksplanasi) hubungan sebab akibat, atau korelasi bebepara faktor atau aspek tertentu. Pertanyaan deskriptif biasanya akan menghasilkan sejarah diskriptif, sedangkan pertanyaan analitik akan menghasilkan sejarah analitik.
Pertanyaan analitik dapat juga dilihat dari pertanyaan yang biasanya diawali dengan kata: sejauhmana, sampai seberapa jauh, apa hubungan ----- dengan----. Yang penting dari pertanyaan analitik adalah akan tergambarnya adanya hubungan antara dua variabel (faktor) atau lebih.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dalam kata tujuan dan manfaat terkandung arti yang berbeda, tetapi mestilah sejalan atau tidak bertentangan satu sama lain. Tujuan penelitian adalah sasaran apa yang akan dipelajari dan yang akan dicapai dalam sebuah penelitian. Tujuan penelitian ini harus sejalan dan relevan dengan pertanyaan penelitian.
Tujuan penelitan biasanya dimunculkan dengan menggunakan kata-kata antara lain :
1). Untuk memperoleh gambaran tentang hubungan .........
2). Untuk mendeskripsikan.......
3). Untuk memberikan telaah tentang ......
4). Untuk menganalisis hubungan......
5). Untuk menjelaskan latar belakang terjadinya......
Tujuan harus sejalan (relevan) dengan perumusan persoalan atau pertanyaan penelitian yang diajukan pada bagian perumusan masalah. Pertanyaan penelitian atau rumusan masalah yang relevan dengan tujuan penelitian akan membuat atau memperlihatkan konsistensi sebuah penelitan.
Manfaat penelitian menerangkan apa yang diperoleh dari penelitian tersebut. Manfaat penelitian ilmiah dapat dilihat dalam dua tingkat yang berbeda:
1). Riset untuk riset. Sumbangan bagi ilmu pengetahuan atau terhadap disiplin ilmu tertentu, baik dalam bentuk pengayaan informasi faktual, maupun sumbangan pengetahuan teoritis atau metodologis.
2). Riset untuk sesuatu. Kemungkinan sumbangannya untuk kegunaan praktis atau penerapan, baik sebagai masukan terhadap kebijakan pada lembaga tertentu maupun penerapannya di lapangan.
Contoh pernyataan manfaat penelitan yang menggambarkan: Riset untuk riset:
a). Penelitian ini dapat menjadi awal dari penelitian tentang ......... selanjutnya.
b). Penelitian ini dapat menambah pengetahuan kita tentang ilmu.......
Contoh pernyataan manfaat penelitan yang menggambarkan: Riset untuk sesuatu :
a). Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi dinas.......tentang....
b). Menambah koleksi perpustakaan.........tentang........
c). Penelitian ini menambah pengetahuan penulis dan pembaca tentang........

Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka memuat tiga aspek penting yaitu: Kerangka konseptual, kajian kepustakaan relevan,dan kerangka pemikiran peneliti.
Kerangka konseptual adalah: Kajian kepustakaan yang membeberkan konsep-konsep, teori-teori, ide-ide, pengalaman-pengalaman dari para ahli dalam area masalah yang akan diteliti. Paling tidak kerangka konseptual itu berfungsi untuk:
1). Mensistematiskan pengetahuan tentang dunia realitas atau gejala yang tengah depelajari atau yang akan diteliti.
2). Menerangkan jalan fikiran peneliti tentang bagaimana masalah yang diteliti harus dibedah dengan mengacu pada alat bantu konseptual yang relevan.
Kerangka berfikir merupakan konstruksi pemikiran yang dikembangkan dari kerangka berfikir dan konseptual dalam kaitan dengan topik penelitian yang dipilih. Dalam bagian ini perlu dikemukakan:
1). Definisi-difinisi operasional tentang variabel penelitian. Jadi definisi-definisi penting dan perlu diketahui oleh peneliti dan pembaca yang perlu diperdalam, maka di jelaskan dalam tinjauan pustaka.
2). Menempatkan variabel yang telah didefinisikan ke dalam kerangka pengertian-pengertian (konsep-konsep) tertentu. Konsep-konsep ini dapat dipinjam dari penelitian yang telah ada, dan dari penelitian-penelitian ilmu lain seperti: Konsep-konsep dari ilmu sosiologi, antropologi, geografi, ekonomi, danlain-lain yang akan bermanfaat dalam proses penelitian. Dari teori biasanya akan ditemukan penjelasan mengenai skema-skema konseptual dalam rangka menerangkan sebab akibat suatu masalah. Jadi permasalaha pada umumnya adalah bagaimana menentukan konsep yang cocok untuk digunakan dalam sebuah penelian. Untuk menyelesaikan masalah itu kita harus paham terlebih dahulu tentang penelitian dan kajian apa yang akan kita kupas.
3). Hubungan konsep-konsep yang dipinjam (dari studi kepustakaan), ilmu sosial lainya akan membuat peneliti (ilmu sejarah) memahami dan dapat mengusahakan kedalaman penelitian yang dilakukannya.
Artinya, kerangka pemikiran dalam sebuah penelitian lebih dekat dengan kerangka konseptual atau teori yang dipakai tetapi lebih memperlihatkan pilihan kerangka pikir yang diperkirakan dengan masalah yang akan diteliti.
Kajian kepustakaan relevan yaitu: Uraian yang memuat buku atau karya yang telah ditulis tentang topik yang hendak diteliti, baik berupa makalah, skripsi, tesis atau disertasi. Kajian kepustakaan yang relevan ini juga berasal dari hasil penelitian yang dicetak menjadi buku. Uraian yang dituliskan adalah selain segi yang bertautan, penting juga diungkapkan sisi yang tidak dibicarakan, tetapi dalam topik penelitian yang direncanakan menjadi fokus utama atau uraian yang (akan) sangat berguna bagi peneliti nanti ketika menulis skripsinya. Jadi dalam uraian ini akan sangat berguna bagi penelitian yang bersangkutan dengan mengkaji tulisan-tulisan sebelumnya, atau sekiranya telah ditulis akan memperlihatkan segi-segi yang masih relevan untuk dikembangkan atau diteliti.
Dari proses awal penelitian sampai ke tahapan penulisan ada beberapa kata penghubung yang harus diperhatikan, karena dapat membawa kita pada kesalah pahaman atau kesesatan seperti kata: karena, meskipun, dan tetapi, dan lain-lain[2]. Kata-kata tersebut harus diperhatikan dimana kita menempatkan dan bagaimana posisinya dalam kalimat.


Metode Penelitian
Pada bagian ini diuraikan metode yang akan digunakan. Metode dasar (basic method) dalam disiplin sejarah mencakup serangkaian langkah-langkah dan prosedur kerja melalui 4 (empat) tahap berikut[3]:
1. Heuristik (Pengumpulan data), menerangkan tentang kemungkinan dimana tempat data penelitian bisa ditemukan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Pada penelitian sejarah akan dikumpulkan data tertulis dan lisan, yang bila dikategorikan pada kualitas sumber disebut data primer ataupun data skunder. Pengumpulan data ini dapat diperoleh dari perpustakaan, dapat berupa buku, hasil penelitian, makalah, koran, majalah, dan lain-lain. Bahkan akan lebih baik sumber penelitian yang berasal dari zaman yang sama dengan periode temporal penelitian seperti surat-surat penting, dokumen, foto, buku terbitan dan bahasan yang sama. Untuk membantu penelitian kita bisa juga melakukan wawancara dengan golongan (kelompok), orang-orang penting yang dirasa perlu untuk mengungkapkan persoalan yang diteliti. Pada bagian ini peneliti juga menjelaskan golongan apa yang akan diteliti dan pokok-pokok apa yang akan ditanya. Dalam pelaksanaannya peneliti telah menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara.
2. Kritik Sumber (analisis / verifikasi data), Kritik sumber dapat dikelompokkan pada kritik ekstern dan kritik intern.
a). Kritik Eksteren. Yaitu proses melihat keaslian sumber, terutama dilihat dari segi kasat mata, apakah sumber dari hasil foto copy, tulisan tangan, stensilan, percetakan. Apakah sumber itu dapat teruji kebenarannya atau ada yang menimbulkan kecurigaan seperti bekas hapusan, tambahan, atau terdapat ketidak sesuaian antara sumber dengan zamannya.
b). Kritik Interen. Kritik yang bertujuan untuk mengkaji keaslian, kebenaran data. Pada bagian ini proses yang mungkin dilakukan adalah dengan melihat ejaan yang digunakan.
3. Analisis-Sintesis dan Interpretasi. Dibagian ini dilakukan kegiatan tahap analisis dan interpretasi dengan menggabungkan, mengelompokkan sumber-sumber yang se-tema dan kegiatan membandingkan serta kegiatan menghubungkan berbagai jenis data yang telah teruji kebenaran dan kesesuaiannya.
4. Historiografi, Penulisan Laporan Penelitian. Penyajian hasil penelitian dalam bentuk tulisan yang telah melewati seluruh aturan, tahap atau proses yang direncanakan. Hal ini disebut juga dengan penyajian hasil temuan atau rekonstruksi sejarah secara keseluruhan dalam bentuk tulisan.

Kerangka Isi Sementara (Outline Sementara)
Pada bagaian ini penulis menuangkan rencana isi tulisan yang akan di buat. Dapat dibuat dengan langsung menyajikan struktur bab yang akan dikembangkan bila proposal penelitian diterima.
Penegmbangan kerangka isi sementara ini dapat dilakukan dengan membuat:
1. Sistematika Penulisan : Bagian ini memberi gambaran isi masing-masing bab yang direncanakan.
2. Daftar isi tentatif : Menjelaskan kemungkinan isi tulisan hasil penelitian dengan merinci masing-masing bab kedalam sub-sub bab yang telah berupa daftar ini sementara.

Daftar Pustaka
Daftar pustaka memuat sumber-sumber yang menjadi acuan dalam penulisan (proposal) karya ilmiah. Susunan daftar pustaka ini disesusaikan dengan abjad nama penulis (sesuai acuan penulisan daftar pustaka.).
Dalam penelitian dan karya ilmiah ilmu sejarah dapat dibagi atas tiga kelompok:
1. Daftar pustaka dan sumber-sumaber dari buku.
2. Sumber yang termasuk pada kelompok makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.
3. Sumber-sumber yang termasuk dalam kelompok dokumen, arsip.
























IV. SKRIPSI

Skripsi merupakan karangan ilmiah yang harus disiapkan oleh mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana (S-1). Sebagai sebuah tulisan ilmiah, skripsi memiliki bagian sebagai berikut:
Pendahuluan
Bab ini memuat :
Latar Belakang Masalah
Batasan dan Rumusan Masalah
Tujauan dan Manfaat Penelitian
Tinjauan Pustaka
Metode Penelitian
Bagian a sampai e sama dengan yang dibuat pada proposal penelitian sementara pada metode penelitian pada skripsi memiliki sedikit perbedaan dengan proposal penelitian, karena pada skripsi metode yang direncanakan pada proposal telah peneliti lakukan jadi langkah-langkah itu telah dilalui. Sehingga perlu di tambahkan dengan beberapa buah sumber yang digunakan, dengan siapa wawancara yang telah dilakukan, bagaimana proses kritik sumber yang telah dilakukan, bagaimana proses analisi-sintesis dan interpretasi hingga sampai pada tahapan historiografi sehingga jelas terlihat bagaimana proses yang anda lalui sewaktu dilapangan. Tapi jangan sampai penjelasan ini berlebihan. Dapat dikatakan bahwa pada bagian metode penelitian pada skripsi lebih aplikatif karena sudah anda kerjakan atau alami dilapangan.
Pembahasan
Pada bagian ini memuat hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Bagian ini tentu sangat relatif bentuknya, karena masing-masing peneliti (mahasiswa) memiliki masalah yang berbeda dan tentunya dalam bagian pembahasan yang juga berbeda.


a. Bab dan Sub Bab.
Pembahasan bab dan sub bab merupakan pancaran dari penelitian secara keseluruhan. Bab memiliki sub-sub bab, sub-sub bab bisa juga didukung lagi oleh anak sub bab. Semua bagian-bagian ini akan dijelaskan dengan fakta, analisa yang melibatkan pemikiran atau analisis peneliti. Dalam melibatkan pemikiran atau analisi peneliti tentu harus berdasarkan fakta sejarah. Fakta adalah kekuatan dalam uraian penelitian.
Sebagai peneliti muda (pemula) untuk mahasiswa S-1 sejarah, bagian (Bab) pembahasan ini bisa terbagi atas beberapa bab saja. Umumnya pembahasan terbagi pada Bab II, Bab III, Bab IV. Kunci yang biasanya selalu dipakai dalam penelitian sejarah adalah memperlihatkan perubahan yang terjadi antar waktu. Dengan demikian bab pertama bagian pembahasan cendrung memperlihatkan awal, latar belakang peristiwa (faktor-faktor yang mendahului sebuah peristiwa berlangsung). Biasanya pada penjelasan berikut menjelaskan perkembangan, perubahan dari suatu peristiwa sejarah. Peristiwa sejarah tesebut dapat berupa peristiwa dibidang politik, ekonomi, sasial, budaya, seni, tekhnologi, biografi dan bebagai bidang lainnya yang mempengaruhi hidup orang banyak. Sehingga muncul sejarah kebudayaan, sejarah ekonomi, sejarah sosial ekonomi, sejarah politik, sejarah kesenian, biografi, dan lain-lain[4].
b. Tiga Unsur Penulisan Sejarah
1). Deskriptif.
Penulisan sejarah secara deskriptif maksudnya adalah usaha penggambaran atau pencatatan pengalaman panca indra. Biasanya penulisan secara deskripsi menjelaskan dengan rinci tentang wujud fisik, seperti ruang, orang, benda, keadaan alam, dan suasana nyata yang ditangkap panca indra. Penulisab deskriptif biasanya dikelompokkan dalam:
a. Deskriptif konkrit artinya membuat sesuatu diketahui secara rinci atau rekaman tentang hal yang bersifat materi atau fisik, termasuk tindakan.
b. Deskripsi Impresionistik artinya membuat sesuatu hal yang berdasarkan suasana jiwa, perasaan hati.
Naskah rekonstruksi deskriptif dalam sejarah biasanya menjawab pertanyaan ”SIAKIP”, tapi jawaban itu belumlah dapat dikatakan risalah sejarah, sehingga diperluakn unsur naratif yang mengikat jawaban ”SIAKIP”.
2). Naratif
Naratif adalah proses penyampaian cerita dalam urutan-urutan peristiwa dan tempat tertentu. Dalam penulisan dengan sifat naratif biasanya memuat :
a. Unsur kronologis dan tempat. Pada prinsipnya penulisan sejarah memerlukan unsur ini karena peneliti/penulis akan mengkaji konsep waktu yang menjelaskan sebelum, sesudah, atau secara periodik[5].
b. Pernyataan sejarah dalam naratif harus berkaitan dengan fakta sejarah.
Pada beberapa penulisan sejarah juga dapat dilakukan dengan cara regresif tidak kronologis (ber-urut). Regresif yaitu penulisan yang bolak balik, seperti mendahulukan periode penting, baru menjelaskan kejadian sebelumnya. Hal itu bisa diterima asalkan mampu menjelaskan periode waktunya dengan baik dan mudah dipahami.
Kalau dilihat secara sederhana penulisan sejarah naratif yang menjelaskan pertanyaan ”SIAKIP” adalah cara yang mudah, tetapi kalau telah di lakukan, tekhnik naratif ini juga memiliki kesulitan karena peneliti/penulis juga harus memiliki kemampuan menyeleksi, membuat kriteria, dan seni menulis.
3). Argumen
Argumen adalah bagian dari debat, suatu dialog antara pandangan-pandangan yang berbeda. Sehingga penulis sejarah yang lebih bersifat analitik sehingga harus mampu memiliki argumen, memilki sumber dan dasar yang kuat. Inilah nanti yang disebut dengan tesis yang merupakan butir argumen sentral yang ”ditegakkan” oleh penulis dalam karya ilmiahnya.
Argumen memerlukan penjelasan (yang cendrung bersifat kausalitas) dari bukti empirik yang ditemukan, dan untuk mampu mencapai tesis sejarah yang baik tentunya penulis harus memahami juga unsur kausalitas (sebab akibat) sehingga mencapai kesimpulan yang diyakininya.
Dalam argumen sejarah bisa terdapat perbedaan (kontraversi) dengan pandangan umum sebelumnya, atau bisa juga berupa argumen dengan pembuktian dari pendapat atau tesis sebelumnya.
Kesimpulan
Kesimpulan adalah hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan metode yang telah dilalui penulis/peneliti. Kesimpulan bukan berarti ringkasan tetapi ia adalah temuan dari penelitian. Jawaban konkrit atau singkat dari pertanyaan penelitian yang diajukan peneliti dalam rumusan masalah (pada bab I).
Lampiran
Memuat bukti-bukti utama yang digunakan untuk menulis skripsi. Lapiran dapat berupa peta lokasi penelitian, arsip, foto, surat keputusan penting yang mendukung penelitian, data-data primer (yang dianggap penting dalam mendukung isi penelitian), surat kabar, yang tentunya harus menunjang pada pemahaman skripsi.
Daftar Pustaka
Daftar pustaka terdiri dari : daftar bacaan yang digunakan dalam penelitian atau yang dipakai sebagai referensi dalam penelitian. Daftar ini adalah sumber-sumber yang dirujuk, di kutip dalam penulisan. Dapat berupa buku, dokumen, skripsi, disertasi, sampai pada daftar informan yang penjelasannya digunakan dalam penulisan skripsi.




























V. TATA CARA PENULISAN

Bahan dan Ukuran
Naskah
Naskah dibuat diatas kertas HVS 80 g/m2. Tulisan hanya memanfaatkan satu bagian halaman kertas atau tidak bolak balik.
Sampul
Sampul dibuat dari kertas buffalo atau sejenis, dan sedapatnya diperkuat dengan kertas karton dan dilapisi plastik.
Warna Sampul
Sesuai dengan warna umum yang dipakai untuk Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) STKIP PGRI Sumatera Barat, maka Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat menggunakan warna sampul skripsi merah.
Ukuran
Ukuran naskah ialah 21 cm x 28 cm.
Pengetikan
Jenis Huruf
1). Naskah diketik dengan huruf Time New Roman karakter (ukuran huruf) 12 untuk seluruh naskah atau jenis huruf Arial dengan ukuran 11.
2). Huruf miring digunakan untuk tujuan tertentu seperti istilah asing, bahasa daerah dan kata-kata yang tidak baku (memiliki makna yang lebih dari 1, sehingga perlu penjelasan, atau kata-kata uyang tidak berdasarkan EYD lainnya.
3). Lambang, huruf Yunani, atau tanda-tanda yang tidak dapat diketik bisa ditulis dengan rapi menggunakan tinta hitam.
Bilangan dan Satuan
1). Bilangan diketik dengan angka, kecuali di permulaan kalimat harus dibuat dengan huruf.
2). Bilangan desimal ditandai dengan koma, bukan dengan titik. Misalnya : berat meriam peninggalan Belanda itu 120,7 Kg.
3). Satuan dibuat dengan singkatan resminya tanpa titik di belakangnya. Misalnya : kg, g, mg, cm.
Jarak Baris
Jarak antar baris dibuat 2 spasi, kecuali inti sari, kutipan langsung, judul daftar tabel, daftar pustaka.
Batas Tepi
Batas pengetikan yang diukur dari tepi kertas cetakan adalah: batas tepi atas 4 cm, tepi bawah 3 cm, tepi kiri 4 cm, tepi kanan 3 cm.
Pengisian Ruang
Ruang yang terdapat pada naskah ketikan harus terisi penuh, jadi gunakanlah setting rata kiri kanan, jangan sampai ada ruang yang terbuang, kecuali kalau akan mulai alinea baru, adanya persamaan daftar, gambar, sub judul, atau hal-hal khusus.
Alinea Baru
Alinea baru dimulai pada ketikan ke-6 dari batas tepi kiri.
Permulaan Kalimat
Bilangan angka yang terdapat diawal kalimat harus dieja dengan suatu kalimat misalnya : Sepuluh orang tentara.
Judul, Sub Judul, Anak Sub Judul dan lainnya
1). Judul harus ditulis dengan huruf besar (Kapital) dan diatur supaya simetris, dengan jarak 4 cm dari sisi tepi atas tanpa diakhiri dengan titik. Usahakan dalam membaca tulisan judul di tiap barisnya tidak memutus arti kalimat pada judul skripsi.
2). Sub judul[6] ditulis simetris ditengah-tengah, semua kata dimulai dengan huruf besar, kecuali kata penghubung atau kata depan. Sub judul tanpa diakhiri dengan titik.
3). Anak sub judul diketik mulai dari batas tepi kiri dan huruf pertama dimulai dengan huruf besar tanpa diakhiri dengan titik. Kalimat pertama sesudah anak sub judul dimulai dengan alinea baru.
4). Sub anak sub judul diketik dimulai pada ketikan ke-6 dari batas tepi kiri diakhiri dengan titik.
Rincian ke Bawah
Jika pada penulisan naskah proposal maupun skripsi ada rincian yang harus disusun ke bawah, pakailah nomor urut dengan angka atau huruf yang sesuai dengan derajat rincian. Penggunaan garis (-), bintang (*), pagar (#), untuk rincian tersebut tidak dibenarkan.
Letak Simetris (sentral)
Judul, sub judul, gambar, tabel, daftar, persamaan harus ditulis simetris (sama jarak kekiri dan kanan pengetikan).
Penomoran
Halaman
1). Bagian awal naskah dimulai dari halaman judul sampai ke halaman intisari[7], di beri nomor halaman dengan angka Romawi kecil (i, iii,iiii, iv.....).
2). Bagian utama sampai bagian akhir[8], diberi nomor dengan angka Arab (1, 2, 3, 4,...).
3). Nomor halaman ditempatkan di sebelah kanan bawah, kecuali untuk penomoran angka Romawi dan halaman bagian utama, penomoran ditempatkan di bawah dengan letak simetri (di tengah-tengah).
4). Nomor halaman diketikkan dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1,5 cm dari tepi bawah.
Tabel (daftar)
Tabel (daftar) diberi nomor urut dengan angka Arab.
Gambar
Gambar dinomori dengan angka Arab.
Pengembangan Uraian Skripsi
Pengembangan uraian skripsi dibuat dengan menggunakan angka Romawi untuk Bab, huruf abjad secara berurutan untuk sub bab, angka Arab untuk anak sub bab, huruf abjad kecil unuk anak-anak sub bab demikian seterusnya, dengan posisi seperti anak tangga.
Contoh :
I.
A.
1.
a.
1).
2).
B.
1.
b
II.
A.
2.
a.
1)
2).
Tabel (daftar dan gambar)
Tabel (daftar)
1). Nomor tabel (daftar) yang diikuti dengan judul ditempatkan simetris di atas tabel (daftar) tanpa diangkhiri dengan titik.
2). Tabel (daftar) tidak boleh dipenggal, kecuali kalau memang panjang.
3). Kolom-kolom diberi nama dengan menjaga agar pemisahan antara satu kolom dengan yang lainnya jelas dan tegas, serta nama yang dapat dieja dengan baik.
4). Kalau tabel (daftar) dibuat memanjang (lanscape) maka bagian atas tabel letakkan di bagian kiri kertas.
5). Tabel (daftar) diketik simetris (ditengah-tengah kertas kerja.
6). Tabel (daftar) yang lebih dari 1 halaman atau harus dilipat karena menggunakan kertas yang lebih besar diletakkan di bagian lampiran.
Gambar.
1). Bagan, grafik, peta, foto, semuanya disamakan disebut gambar.
2). Nomor gambar yang diikuti dengan judulnya diletakkan simetris dibawah gambar tanpa diakhiri titik.
3). Gambar tidak boleh dipenggal.
4). Keterangan gambar dibuat di tempat-tempat yang lowong di dalam gambar dan jangan pada halaman lain.
5). Kalau gambar dibuat memanjang (lanscape) maka bagian atas tabel letakkan di bagian kiri kertas.
6). Ukuran gambar diusahakan seimbang dan wajar, jangan terlalu panjang, pendek, kurus atau gemuk.
7). Skala pada grafik, peta harus dibuat supaya lebih mudah memahaminya.
8). Letak gambar harus diatur dengan simetris.
9). Bagan dan grafik dibuat dengan tinta hitam yang tidak larut dalam air dan garis lengkung grafik dibuat dengan bantuan kurva Prancis (French curve).
Untuk tabel dan gambar yang menggunakan keterangan atau penjelasan tertentu, langsung dibuat di bawah tabel dan gambar dengan menggunakan huruf berukuran 10 dan spasi 1.
Bila didapatkan dari sumber tertentu buat juga sumbernya pada bagian bawah tabel dan gambar dengan menggunakan huruf berukuran 10 dan spasi 1.
Bahasa
Bahasa yang Digunakan
Bahasa yang dipakai dalam penulisan proposal maupun skripsi adalah bahasa Indonesia yang baku. Dan untuk setiap kalimat memuat subjek, predikat, dan supaya lebih sempurna di tambah dengan objek dan keterangan.
Bentuk Kaliamat
Kalimat dalam proposal maupun skripsi tidak boleh menampilkan orang pertama, atau orang kedua, seperti kata : saya, aku, kamu, kami, kita kalian, dan lain-lain. Kalimat harus dibuat pasif. Pada penyajian ucapan terima kasih pada prakata, kaya saya diganti dengan penulis.
Istilah
1). Istilah yang dipakai ialah istilah Indonesia atau yang telah di Indonesiakan.
2). Jika terpaksa harus memakai istilah asing, bahas daerah bubuhkan garis bawah atau istilah itu bisa dicetak miring.
Kesalahan yang sering terjadi
1). Kata penghubung: seperti, sehingga, sedangkan, dan, dan lainya tidak boleh dipakai untuk memulai suatu kalimat.
2). Kata depan, misalnya, pada, sering dipakai pada tempat yang tidak pas. Terkadang diletakkan di awal kalimat sebagai subjek, hal itu akan merusak susunan kalimat.
3). Kata dimana dan dari kerap kurang tepat pemakainannya, diperlakukan seperti kata where dan of pada Bahasa Inggris. Padahal fungsinya untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris jauh berbeda.
4). Awalan ke dan di harus dibedakan dengan kata depan ke dan di.

Penulisan Nama
Nama Penulis Dalam Daftar Pustaka
1. Format A
Dalam daftar pustaka yang penulisnya lebih dari 1 orang harus dituliskan nama semua penulisnya, tidak boleh hanya nama orang pertama yang dilanjutkan dengan dkk, atau et al. Penulisan nama orang Indonesia mengikuti pola penulisan nama orang asing.
Contoh :
1). Meisel, S.L, Mc Mullough, J.P, Leckghaler, C.H, 1976,.....
2). Etek, Azizah, Mursjid AM, Arfan BR, 2007,……
2. Format B
Sebagian ahli bidang bahasa dan tata penulisan dari Indonesia berpendapat bahwa nama penulis yang berasal dari Indonesia tidak perlu di balik dalam daftar pustaka, karena nama orang Indonesia tidak menunjukkan nama keluarga dan nama panggilan (nama kecil) seperti para peneliti dari Eropa / Amerika. Sehingga nama-nama penulis dari Indonesia dapat ditulis seperti nama biasa.
Contoh :
1). Azizah Etek, Mursyid AM, Arfan BR, 2007,.....
2). Sutan Takdir Alisyahbana, 1955,.......
Penulisan Nama Yang Lebih Dari Satu Suku Kata
Jika nama penulis terdiri dari 2 suku kata atau lebih, penulisannya dengan menulis nama akhir dikuti dengan koma, singkatan nama depan,tengah. Singkatan nama diakhiri dengan titik.
Contoh :
1). Nama Sutan Takdir Alisyahbana ditulis : Alisyahbana S.T, atau Alisyahbana, Sutan Takdir.
2). Nama Ajat Sudrajat ditulis : Sudrajat, Ajat.
Kalau nama asli, atau nama pada sumber yang digunakan pada sumber ditulis dengan garis penghubung (-) maka namanya dianggap satu kesatuan (tidak ubah).
Nama Yang Diikuti Singkatan.
Nama yang diikuti dengan singkatan, dianggap bahwa singkatan itu menjadi satu kesatuan dengan kata depannya
Contoh :
1). Nama Mursjid A. M. Ditulis Mursjid AM.
Derajat Kesarjanaan
Gelar, derajat kesarjanaan tidak boleh dicantumkan.
Catatan Kaki, Istilah Baru dan Kutipan
1). Catatan Kaki atau Footnote
Catatan kaki dapat diumpamakan sebagai saksi dalam persidangan, Untuk menjelaskan suatu keterangan yang kita buat di bagian isi, maka di perkuat dengan catatan kaki/ catatan bawah[9]. Dua fungsi catatan kaki yaitu:
1). Untuk memenuhi etik kesarjanaan,
2). Untuk menyatakan penghargaan atas karya orang lain. Penulis harus menyatakan secara jujur bahwa suatu ide, pendapat, atau kesimpulan ”dipinjam” dari pihak lain atau penulis lain.
Untuk catatan kaki yang menjelaskan tentang referensi yang digunakan maka ditulis dengan urutan :
Nama penulis, tahun terbit, judul buku, skripsi, makalah atau jenis lainnya, tempat terbit, halaman.
Contoh :
Arita, Syafni, 2001, Bukittinggi Kota Wisata, Suatu Kajian Historis 1984-2000, Padang, Hal 5. ( Format Penulisan Nama A )
Syafni Arita, 2001, Bukittinggi Kota Wisata, Suatu Kajian Historis 1984-2000, Padang, Hal 5. ( Format Penulisan Nama B)

Tujuan pembuatan catatan kaki ;
a). Untuk memberikan penjelasan tambahan tentang sesuatu masalah yang ditemukan dalam teks atau untuk menjelaskan defenisi istilah secara lebih cepat.
b). Untuk menunjang data, fakta, konsep, gagasan yang disampaikan dalam naskah.
Tekhnik pembuatan catatan kaki:
a). Ruang atau tempat pada kaki (bagian bawah sebuah halaman proposal atau skripsi) harus disediakan dengan cukup. Minimal 3 cm dari akhir catatan kaki masih tersedia untuk penomoran halaman (batas bawah).
b). Sesudah baris terakhir teks dari suatu halaman, dalam jarak 2 spasi harus dibuat garis mulai dari batas kiri sepanjang 15 buah ketikan.
c). Dalam jarak 2 spasi dari garis tadi, dalam jarak 7 ketukan kosong ke kiri, dibei nomor petunjuk.
d). Langsung setelah nomor petunjuk, spasi, diktik baris pertama catatan kaki. Perlu diingat baris 1 catatan kaki di sejajarkan dengan penjorokan baris pada awal paragraf sedangkan baris kedua kembali haris rata ke pinggir kiri (seperti penulisan biasa).
e). Jarak antar baris dalam catatan kaki adalah 1 spasi.
f). Untuk operasional pada komputer (microsoft word) dapat langsung membuka tool bar, insert kemudian bukalah reference dan buka footnote maka kita akan lansung dibantu untuk membuat catatan kaki (footnote).
g). Untuk keseragaman dalam penulisan catatan kaki, kita juga perlu memahami istilah- istilah seperti : Ibid, op. cit, loc. Cit.
2). Istilah Baru
Istilah-istilah baru yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia dapat di gunakan asal konsiten. Pada penggunaan yang pertama kali perlu diberi pedomannya dalam bahasa asing atau bahasa Indonesia yang dibuat di dalam kurung. Kalau banyak menggunakan istilah-istilah baru dan belum dibakukan sebaiknya buatlah daftar istilah.
3). Kutipan
Kelompok data :
a). Data berupa teks tertulis yang dapat dikelompokkan pada prosa, drama, puisi, catatan, laporan, foto, dll.
b). Data tidak tertulis seperti informasi media radio, televisi, rekaman kaset.
Tang kesemuanya dapat di kutip.
Jenis kutipan :
a). Kutipan langsung : Persis seperti kata-kata dalam sumber asli. Kutipan langsung ini terbagi pada kutipan langsung pendek (kurang dari 5 baris pengetikan ), kutipan langsung panjang ((kutipan terdiri dari dari 5 baris atau lebihg pengetikan ).
b). Kutipan tidak langsung : kutipan yang hanya mengambil intisari pendapat orang lain atau di olah dalam kakat-kata sendiri.
Hal yang harus diperhatikan dalam membuat kutipan langsung :
a). Kutipan langsung harus sama dengan aslinya, baik mengenai susunan kata, ejaan, maupun tanda bacanya.
b). Kutipan langsung pendek yaitu kutipan yang kurang dari 5 baris dibuat dengan memasukkan langsung ke dalam teks biasa, hanya saja diberi tanda petik (”) di awal dan diakhir kutipan.
c). Kutipan langsung panjang yaitu kutipan yang panjangnya 5 baris atau lebih. Untuk kutipan ini dibuat terpisah dari ketikan biasa, dibuat dengan spasi 1 dan mengosongkan 4 pukulan tik dari garis batas tepi sepelah kiri, jadi kutipan ini lebih menjorok ke dalam halaman pengetikan dari pada ketikan umumnya. Kutipan langsung panjang ini tidak diberi tanda petik.
d). Kalau dalam kutipan itu ada bagian yang akan dihilangkan maka pada bagian itu diberi tanda titik 3 buah.
e). Kalau perlu disipkan sesuatu kedalam kutipan maka beri tanda kurung siku [ ].
f). Kalau didalam kutipan langsung pendek terdapat tanda petik maka harus diganti dengan tanda petik tinggal ( ’ ).
g). Kalau dalam kutipan terdapat kata yang menurut penulis perlu ditandai dapat digaris bawahi, tetapi untuk keterangan, harus dibuat kalimat dari penulis bahwa garis bawah barasal dari penulis dalam tanda kurung siku. Contoh : [ garis bawah oleh penulis].
h). Apabila dalam kutipan terdapat kesalahan penulis terdahulu, maka penulis hanya dapat memberikan catatan dengan menulis [sic]. Sedangkan kutipan tidak dapat diubah.
Kutipan dalam penulisan proposal, skripsi sejarah dirasa memang perlu karena kutipan langsung ini akan memberi kejelasan gagasan, ide, kesimpulan yang telah diperoleh peneliti, penulis tedahulu.











VI. KELENGKAPAN SKRIPSI

Halaman Sampul Depan
Halaman sampul depan memuat judul skripsi, maksud skripsi, lambang STKIP PGRI Sumatera Barat, Nama dan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM), instansi, kota terbit (kota tempat instansi atau perguruan tinggi /Padang ) dan tahun penyelesaian skripsi. Untuk lebih rincinya dijelaskan pada poin penjelasan berikut:
Judul skripsi dibuat se singkat mungkin (maksimal 16 kata), sesuai dengan penjelasan pada proposal penelitian.
Maksud skripsi ialah: ”Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Pada Program Studi Pendidikan Sejarah”.
Lambang STKIP PGRI Sumatera Barat diletakkan dengan simetris di tengah-tengah halaman sampul, dengan diameter gambar 5,5 cm.
Nama mahasiswa yang mengajukan skripsi ditulis dengan lengkap (tidak boleh ada singkatan) dan tanpa derajat kesarjanaan atau gelar yang pernah diraih. Dan dibawah nama dibuat Nomor Pokok Mahasiswa (NPM).
Insatansi yang dituju ialah Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Kota terbit, Padang. Tahun penyelesaian skripsi ialah tahun ujian skripsi (kompre) dilakukan.
Bagian samping halaman sampul menjelaskan nama sipenulis/peneliti, Nomor Induk Mahasiswa (NIM), dan Instansi (Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat.
Halaman Judul
Halaman judul berisi tulisan yang sama dengan halaman sampul depan.


Halaman Pengesahan
Halaman ini memuat judul skripsi, identitas pembuat skripsi, tanda tangan para pembimbing, penguji, tanggal ujian, yang diketahui oleh ketua program studi.
Kata Pengantar
Kata pengantar memuat ucapan rasa syukur kepada Tuhan YME, uraian singkat tentang maksud skripsi, penjelasan yang dirasa perlu, ucapan terima kasih. Usahakan tidak lebih dari 1 halaman.
Abstrak / Intisari
Abstrak berisi beberapa komponen penting dimulai judul halaman (Abstrak), dilanjutkan dengan identitas skripsi berisi nama penulis, NPM, judul penelitian, tahun ditulis dan instansi Bagian kedu berisi intisari yang memuat secara ringkas dan padat tentang permasalahan penelitian, tujuan penelitian, cara melakukan penelitian, dan hasil penelitian yang di dapat.Bagian kedua pada abstrak ini di ramu dari pengantar pada bab I sampai hasil temuan penelitian. Dalam penulisannya tidak lebih dari 1 halaman. Abstrak ini ditilus dalam spasi 1.
Daftar Isi
Daftar isi memberi gambaran secara menyeluruh tentang isi skripsi dan sebagai petunjuk bagi pembaca yang ingin melihat langsung ke suatu bab yang dibahas di dalam skripsi. Dalam daftar isi tertera urutan judul, sub judul, anak sub judul, yang disertai dengan nomor halaman.
Daftar Tabel
Jida di dalam skripsi terdapat banyak tabel, sehingga dirasa perlu adanya daftar tabel maka penulis haruslah membuat daftar ini dengan rincian judul tabel sesuai urutan didalam skripsi, nomor halaman lokasi tabel.
Daftar Gambar
Jika dalam sebuah skripsi terdapat gambar-gambar yang perlu dibuat daftar, maka penulis perlu juga membuat daftar gambar. Tetapi bila hanya beberapa buah maka daftar ini tidak diperlukan.


Daftar Lampiran
Sama halnya dengan daftar tabel dan daftar gambar, daftar lampiran perlu dibuat bila skripsi memiliki lampiran yang cukup banyak sehingga perlu dibaut daftar lampiran. Aturan pembuatannya sama dengan daftar gambar dan daftar tabel.
Arti Lambang dan Singkatan
Arti lambang dan singkatan dibuat dalam bentuk daftar lambang dan singkatan yang digunakan didalam skripsi disertai denga arti dan satuannya. Daftar ini dibuat untuk lambang dan singkatan yang tidak lazim atau jarang ditemukan karena tidak semua orang memahami lambang dan singkatan tersebut.





























Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2001, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Pusat Pembinaan Bahasa, Dep P dan K, Jakarta.
Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 2006, Panduan Pelaksanaan Hibah Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Program Kreativitas Mahasiswa, Edisi VII, Jakarta, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
Gottschalk, Louis, 2006, Mengerti Sejarah, Jakarta, UI Press.
Kuntowijoyo, 1994, Metodologi Sejarah, Yogyakarta, PT. Tiara Wacana Yogya.
Suryadi, Porang, Silmenes, 1980, Penuntun Penyeusunan, Paper, Skripsi, Thesis, Disertasi, Beserta Pengetikanny. Surabaya, Karya Anda.
Tim Penyusun STKIP PGRI, 1992, Pedoman Penulisan Skripsi dan Makalah STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang, STKIP PGRI Sumatera Barat.
Tim Penyusun, 2004, Pedoman Penyajian Karya Ilmiah Seri Pustaka IPB, Bogor, IPB Press.
Tim Penulis, 2003, Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi Sejarah keluaran Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang, Padang, Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang
Tim Penyusun, 1997, Pedoman Penulisan Proposal Penelitian dan Tesis terbitan Program Pascasarjanan Universitas Andalas, Padang, Universitas Andalas.































LAMPIRAN























Lampiran 1 : Contoh Halaman Sampul Proposal




PROPOSAL


PADANG MASA PENDUDUKAN JEPANG
1942 – 1945








Oleh :
NAJWA AQILA
NPM : 05020045








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
STKIP PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2008

Lampiran 2 : Contoh Halaman Sampul Skripsi



PADANG MASA PENDUDUKAN JEPANG
1942 – 1945


SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Strata Satu





Oleh :
NAJWA AQILA
BP : 05020045








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2008

Lampiran 3 : Contoh Halaman Persetujuan Skripsi

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI


PADANG MASA PENDUDUKAN JEPANG 1942 – 1945
Nama : NAJWA AQILA
Program Studi : Pendidikan Sejarah
Institusi : Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat.

Padang, Juni 2008
Disetujui Oleh
Pembimbing I Pembimbing II


Dr. Zusmelia, M.Si Hendra Naldi, S.S, M.Hum
Diketahui Oleh :
Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah


......................................


Lampiran 4 : Contoh Halaman Pengesahan Skripsi

HALAMAN PENEGESAHAN SKRIPSI

PADANG MASA PENDUDUKAN JEPANG
1942 – 1945
Dipersiapkan dan disusun oleh
Nama : NAJWA AQILA
NPM : 05020045

Telah dipertahankan di depan dewan penguji skripsi pada tanggal............
dan dinyatakan lulus
Padang, .................2008
Dewan Penguji Skripsi

Ketua : Dr. Zusmelia, M.Si ....................................
Sekretaris : Hendra Naldi, S.S, M.Hum ....................................
Anggota : Liza Husnita, S.Pd ....................................
Syafrijen, S.Pd ....................................
Irwan Setiawan, S.Pd ....................................

Ketua Program Studi Sekretaris


.................................... ...................................


Mengetahui :
Padang,...................................
Ketua STKIP PGRI Sumatera Barat


......................................
Lampiran 5 : Contoh Halaman Berita Acara Skripsi

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

BERITA ACARA
Pada tanggal...................2008, telah dilaksanakan ujian skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah atas :
Nama : NAJWA AQILA.
NPM / BP : 05020045.
Program Studi : Pendidikan Sejarah.
Judul : PADANG MASA PENDUDUKAN JEPANG 1942 – 1945
Dengan Nilai :
Demikain barita acara ini dibuat dengan sebenarnya agar dapat dipergunakan seperlunya.
Dewan Penguji Skripsi

Ketua : Dr. Zusmelia, M.Si ....................................
Sekretaris : Hendra Naldi, S.S, M.Hum ....................................
Anggota : Liza Husnita, S.Pd ....................................
Syafrijen, S.Pd ....................................
Irwan Setiawan, S.Pd ....................................

Padang, ......................2008
Ketua Program Studi Sekretaris


.................................... ...................................


Lampiran 4 : Contoh Penggunaan Catatan Kaki.


......................Objek wisata Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan adalah salah satu objek wisata tertua di Indonesia. Pengembangan awal taman ini telah dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1900, yang saat itu terkenal dengan nama kebun bunga[10]. Kebun bunga (strom park) itu terus dikembangkan sampai tahun 1929. Karena perkembangan dan kemajuan, yang awalnya hanya sebagai tempat beristirahat dengan menyaksikan berbagai koleksi bunga-bunga yang ditanam pekarangannya, namun sejak ditambahnya koleksi dengan memasukkan berbagai binatang-binatang jinak dan hasil tangkapan serta perburuan orang-orang Belanda maka sejak tahun 1929 taman bunga ini dijadikan sebagai kebun binatang dengan nama Kebun Binatang Bukittinggi (Fort de KocksheDieren Park)[11].
Berdasarkan catatan Perhimpunan Kebun Binatang Se Indonesia (PKBSI), tercatat bahwa Kebun Bintang Bukittinggi merupakan kebun binatang tertua ke dua di Indonesia dibawah Kebun Binatang Surabaya yang telah berdiri sejak 1916[12].........................




Lampiran 5 : Contoh Daftar Pustaka


A. Arsip
Kantor Statistik Kota Padang 2002-2007.
Laporan Tahunan Camat Se-Kota Padang 1981.
Market Report, Publication Under Direction Of The Padang – Exchenged, 1861 – 1920.
Principal Comparative Export Statement From Padang 1861 – 1920.
Verslag Van de Kamer Van Koop Handel en Nijverheid Te Padang Overhet Jarr 1908, 1919, 1927 - 1940.
B. Majalah dan Surat Kabar
Zulaekha, Siti., ” Padang Dari Masa Kemasa”, dalam koran Singgalang, Senin 13 Januari 2000. (Penggunaan nama dengan format A).
Siti Zulaekha, ” Padang Dari Masa Kemasa”, dalam koran Singgalang, Senin 13 Januari 2000. (Penggunaan nama dengan format B).
C. Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Buku
Kuntowijoyo., 1994, Metodologi Sejarah, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.
Asnan, Gusti., 2007, Sumatera Barat Dari Masa Kolonial Sampai Reformasi, Yogyakarta : Ombak. (Penggunaan nama dengan format A).
Gusti Asnan., 2007, Sumatera Barat Dari Masa Kolonial Sampai Reformasi, Yogyakarta : Ombak. (Penggunaan nama dengan format B).
Amir B., 2000, Sejarah Sumatera Barat, Padang, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang. (Penggunaan nama dengan format B).
Manan, Imran., 1995, Birokrasi Modern dan Otoritas Tradisional Minangkabau (Nagari dan Desa di Minangkabau), Padang, Yayasan Pengkajian Kebudayaan Minangkabau. (Penggunaan nama dengan aturan A).
Imran Manan., 1995, Birokrasi Modern dan Otoritas Tradisional Minangkabau (Nagari dan Desa di Minangkabau), Padang, Yayasan Pengkajian Kebudayaan Minangkabau(Penggunaan nama dengan format B).
D. Daftar Informan
1. Nama : Agus Nurdinansyah
Umur : 77 Tahun
Jabatan : Anggota Legiun Veteran
Alamat : Jalan Gunung Pangilun, Padang.
Tanggal Wawancara : 7 Januari 2007
2. Nama : Sarimin
Umur : 67 Tahun
Jabatan : Pedagang
Alamat : Jalan Veteran, Padang.
Tanggal Wawancara : 10 Januari 2007
3. Nama : Djainudin
Umur : 88 Tahun
Jabatan : Petani, Ninik Mamak Suku Jambak
Alamat : Lubuk Buaya, Padang.
Tanggal Wawancara : 10 Januari 2007


[1]. Suryadi, Porang, Silmenes, 1980, Penuntun Penyeusunan, Paper, Skripsi, Thesis, Disertasi, Beserta Pengetikanny. Surabaya, hal 15.
[2]. schalk, Louis, 2006, Mengerti Sejarah, Jakarta. Hal 178.
[3]. Gottschalk, Louis, 2006, Mengerti Sejarah, Jakarta. Hal 23-24
[4]. Kuntowijoyo, 1994, Metodologi Sejarah, Yogyakarta.
[5]. Gottschalk, Louis, 2006, Mengerti Sejarah, Jakarta. Hal 174.
[6]. Sub judul yang dimaksud adalah judul dibawah judul bab
[7]. Intisari adalah bagian seluruh bagian sebelum penjelasan BAB I.
[8]. Bagian naskah dari BAB I sampai bagian penutup naskah yaitu Kesimpulan.
[9]. Gottschalk, Louis, 2006, Mengerti Sejarah, Jakarta. Hal 17
[10]. Arita, Syafni, 2001, Bukittinggi Kota Wisata, Suatu Kajian Historis 1984-2000, Padang, Hal 5.
[11]. Iskandar, Boestamam, 1993, Kesan dan Pengalaman Dikaitkan Sejarah Taman Bundo Kanduang Kodya Bukittinggi, Bukittinggi, Hal 20.
[12]. Daftar Kebun Binatang / Taman Satwa Anggota PKBSI.

Sabtu, 08 November 2008


mamalia


Belajar dari Bung Hatta

Belajar Dari Bung Hatta

(Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik)
Oleh : Irwan Setiawan

Bung Hatta adalah nama salah seorang dari beribu pahlawan yang pernah memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sosok Bung Hatta telah menjadi begitu dekat dengan hati rakyat Indonesia karena perjuangan dan sifatnya yang begitu merakyat. Besarnya peran beliau dalam perjuangan negeri ini sehingga ai disebut sebagai salah seorang “The Founding Father’s of Indonesia”.
Berbagai tulisan dan kisah perjuangan Muhammad Hatta telah ditulis dan dibukukan, mulai dari masa kecil, remeja, dewasa dan perjuangan beliau untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Namun ada hal yang rasanya perlu sedikit digali dan dipahami yaitu melihat Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik, hal ini dikaitkan dengan usaha melihat perkembangan kegiatan politik dan ketokohan politik di dunia politik Indonesia sekarang maka pantas rasanya kita ikut melihat perjuangan dan perjalanan kegiatan politik Bung Hatta.
Setelah perang dunia I berakhir generasi muda Indonesia yang berprestasi makin banyak yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan luar negeri seperti di Belanda, Kairo (Mesir). Hal ini diperkuat dengan diberlakukannya politik balas budi oleh Belanda. Bung Hatta adalah salah seorang pemuda yang beruntung, beliau mendapat kesempatan belajar di Belanda. Kalau kita memperhatikan semangat berorganisasi Bung Hatta, sebenarnya telah tumbuh sewaktu beliau berada di Indoensia. Beliau pernah menjadi ketua Jong Sematera (1918-1921) dan semangat ini makin membara dengan asahan dari kultur pendidikan Belanda / Eropa yang bernafas demokrasi dan keterbukaan.
Keinginan dan semangat berorganisasi Bung Hatta makin terlihat sewaktu beliau mulai aktif di kelompok Indonesische Vereeniging yang merupakan perkumpulan pemuda-pemuda Indonesia yang memikirkan dan berusaha memajukan Indonesia, bahkan dalam organisasi ini dinyatakan bahwa tujuan mereka adalah : “ kemerdekaan bagi Indonesia “. Dalam organisasi yang keras dan anti penjajahan ini Bung Hatta makin “tahan banting” karena banyaknya rintangan dan hambatan yang mereka hadapi.
Walau mendapat tekanan, organisasi Indonesische Vereeniging tetap berkembang bahkan Januari 1925 organisasi ini dinyatakan sebagai sebuah organisasi politik yang kemudian dinamai Perhimpunan Indonesia (PI). Dan dalam organisasi ini Bung Hatta bertindak sebagai Pemimpinnya.
Keterlibatan Bung Hatta dalam organisasi dan partai poltik bukan hanya di luar negeri tapi sekembalinya dari Belanda beliau juga aktif di PNI (Partai Nasional Indonesia) yang didirikan Soekarno tahun 1927. Dalam organisasi PNI, Bung Hatta menitik beratkan kegiatannya dibidang pendidikan. Beliau melihat bahwa melalui pendidikanlah rakyat akan mampu mencapai kemerdekaan. Karena PNI dinilai sebagai partai yang radikal dan membahayakan bagi kedudukan Belanda, maka banyak tekanan dan upaya untuk mengurangi pengaruhnya pada rakyat. Hal ini dilihat dari propaganda dan profokasi PNI tehadap penduduk untuk mengusakan kemerdekaan. Hingga akhirnya Bunga Karno di tangkap dan demi keamanan organisasi ini membubarkan diri.
Tak lama setetah PNI (Partai Nasional Indonesia) bubar, berdirilah organisasi pengganti yang dinamanakan Partindo (Partai Indonesia). Mereka memiliki sifat organisasi yang radikal dan nyata-nyata menentang Belanda. Hal ini tak di senangi oleh Bung Hatta. Karena tak sependapat dengan Partindo beliau mendirikan PNI Pendidikan (Partai Nasional Indonesia Pendidikan) atau disebut juga PNI Baru. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta bulan Agustus 1932, dan Bung Hatta diangkat sebagai pemimpi. Organisasi ini memperhatikan “ kemajuan pendidikan bagi rakyat Indonesia, menyiapkan dan menganjurkan rakyat dalam bidang kebathinan dan mengorganisasikannya sehingga bisa dijadakan suatu aksi rakyat dengan landasan demokrasi untuk kemerdekaan “.
Organisasi ini berkembang dengan pesat, bayangkan pada kongres I di Bandung 1932 anggotanya baru 2000 orang dan setahun kemudian telah memiliki 65 cabang di Indonesia. Organisasi ini mendapat pengikut dari penduduk desa yang ingin mendapat dan mengenyam pendidikan. Di PNI Pendidikan Bung Hatta bekerjasama dengan Syahrir yang merupakan teman akrabnya sejak di Belanda. Hal ini makin memajukan organisasi ini di dunia pendidikan Indonesia waktu itu. Kemajuan, kegiatan dan aksi dari PNI Pendidikan dilihat Belanda sebagai ancaman baru tehadap kedudukan mereka sebagai penjajah di Indonesia dan mereka pun mengeluarkan beberapa ketetapan ditahun 1933 diantaranya:
a. Polisi diperintahkan bertindak keras terhadap rapat-rapat PNI Pendidikan.
b. 27 Juni 1933, pegawai negeri dilarang menjadi anggota PNI Pendidikan.
c. 1 Agustus 1933, diadakan pelarangan rapat-rapat PNI Pendidikan di seluruh Indonesia.
Akhirnya ditahun 1934 Partai Nasional Indonesia Pendidikan dinyatakan Pemerintahan Kolonial Belanda di bubarkan dan dilarang keras bersama beberapa organisasi lain yang dianggap membahayakan seperti : Partindo dan PSII. Ide-ide PNI Pendidikan yang dituangkan dalam surat kabar ikut di hancurkan dan surat kabar yang menerbitkan ikut di bredel. Namun secara keorganisasian, Hatta sebagai pemimpin tak mau menyatakan organisasinya telah bubar. Ia tetap aktif dan berjuang untuk kemajuan pendidikan Indonesia.
Soekarno yang aktif di Partindo dibuang ke Flores diikuti dengan pengasingan Hatta dan Syahrir. Walau para pemimpin di asingkan namun para pengikut mereka tetap konsisten melanjutkan perjuangan partai. PNI Pendidikan tetap memberikan kursus-kursus, pelatihan-pelatuhan baik melalui tulisan maupun dengan kunjungan kerumah-rumah penduduk.
Dalam sidang masalah PNI Pendidikan M.Hatta, Syahrir, Maskun, Burhanuddin ,Bondan dan Murwoto dinyatakan bersalah dan dibuang ke Boven Digul (Papua). Demi harapan terciptanya ketenangan di daerah jajahan. Walau telah mendapat hambatan yang begitu besar namun perjuangan Hatta tak hanya sampai disitu, beliau terus berjuang dan salah satu hasil perjuangan Hatta dan para pahlawan lain tersebut adalah kemerdekaan yang telah kita raih dan kita rasakan sekarang.
Sebagai tulisan singkat mengenai sejarah ketokohan Muhammad Hatta di organisasi dan partai politik yang pernah beliau geluti, kita haruslah dapat mengambil pelajaran dari hal ini. Karena sejarah tak berarti apa-apa bila kita tak mampu mengambil manfaat dan nilai-nilai positif didalamnya. Dari kehidupan Hatta di dunia politik kita bisa melihat bahwa : Munculnya seorang tokoh penting dan memiliki jiwa patriot yang tangguh dan memikirkan kehidupan orang banyak serta memajukan bangsa dan negara “bukan hanya muncul dalam satu malam” atau bukanlah tokoh kambuhan yang muncul begitu saja, dan bukanlah sosok yang mengambil kesempatan untuk tampil sebagai pahlawan dan sosok pemerhati masyarakat. Tapi tokoh yang dapat kita jadikan contoh dan panutan dalam organisasi, partai, dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesunguhnya adalah seorang sosok yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat, ia terlatih untuk mampu memahami keinginan dan cita-cita masyarakat, serta bertindak dengan menggunakan ilmu dan iman.
Seiring dengan meruaknya wacana demokrasi, terutama di era reformasi kita bisa melihat bahwa di Indonesia berkembang berbagai partai baru yang jumlahnya telah puluhan. Dalam kenyataanya memunculkan nama-nama baru sebagai tokoh, elit partai, elit politik yang berpengaruh di berbagai partai tersebut. Ada juga tokoh politik yang merupakan wajah-wajah lama yang konsisten di partainya atau beralih membentuk partai baru. Apakah mereka sudah pantas dikatakan sebagai tokoh, elite politik / elite partai?. Sebagai salah satu sosok tokoh ideal, dengan mencontoh ketokohan Bung Hatta kita harus mampu melihat berapa persen diantara tokoh-tokoh, orang-orang penting, elite politik / elite partai di Indonesia sekarang yang telah memperhatikan kehidupan masyarakat, berapa persen diantara mereka yang sudah melakukan usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat Indonesia baik di bidang ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain.
Dalam kenyataannya, kebanyakan kita melihat tokoh politik, elite politik dan tokoh-tokoh partai di Indonesia dewasa ini kurang memperhatikan kehidupan dan kemajuan masyarakat. Mereka hanya mengambil simpati masyarakat disaat-saat mereka membutuhkan suara dan partisipasi penduduk, seperti saat-saat akan diadakannnya pemilihan umum (nasional), saat diadakannya pemilihan kepala daerah (Pilkada), setelah kegiatan itu berlangsung mereka mulai meninggalkan dan melupakan masyarakat. Namun ada beberapa partai dan tokoh yang sering terlihat dalam berbagai kegiatan social dan memperhatikan masyarakat.
Apakah kita masih menganggap bahwa seorang penjahat, pemaling (koruptor) yang lolos dari sergapan hukum sebagai tokoh panutan kita di organisasi, partai politik, pemerintahan, atau kehidupan sehari-hari?. Jadi pantaslah kita belajar dari ketokohan Muhammad Hatta dalam kehidupan politiknya yang selalu bertindak demi kesejahteraan dan kemajuan rakyat Indonesia.

Belajar Dari Bung Hatta

Belajar Dari Bung Hatta

(Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik)
Oleh : Irwan Setiawan

Bung Hatta adalah nama salah seorang dari beribu pahlawan yang pernah memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sosok Bung Hatta telah menjadi begitu dekat dengan hati rakyat Indonesia karena perjuangan dan sifatnya yang begitu merakyat. Besarnya peran beliau dalam perjuangan negeri ini sehingga ai disebut sebagai salah seorang “The Founding Father’s of Indonesia”.
Berbagai tulisan dan kisah perjuangan Muhammad Hatta telah ditulis dan dibukukan, mulai dari masa kecil, remeja, dewasa dan perjuangan beliau untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Namun ada hal yang rasanya perlu sedikit digali dan dipahami yaitu melihat Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik, hal ini dikaitkan dengan usaha melihat perkembangan kegiatan politik dan ketokohan politik di dunia politik Indonesia sekarang maka pantas rasanya kita ikut melihat perjuangan dan perjalanan kegiatan politik Bung Hatta.
Setelah perang dunia I berakhir generasi muda Indonesia yang berprestasi makin banyak yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan luar negeri seperti di Belanda, Kairo (Mesir). Hal ini diperkuat dengan diberlakukannya politik balas budi oleh Belanda. Bung Hatta adalah salah seorang pemuda yang beruntung, beliau mendapat kesempatan belajar di Belanda. Kalau kita memperhatikan semangat berorganisasi Bung Hatta, sebenarnya telah tumbuh sewaktu beliau berada di Indoensia. Beliau pernah menjadi ketua Jong Sematera (1918-1921) dan semangat ini makin membara dengan asahan dari kultur pendidikan Belanda / Eropa yang bernafas demokrasi dan keterbukaan.
Keinginan dan semangat berorganisasi Bung Hatta makin terlihat sewaktu beliau mulai aktif di kelompok Indonesische Vereeniging yang merupakan perkumpulan pemuda-pemuda Indonesia yang memikirkan dan berusaha memajukan Indonesia, bahkan dalam organisasi ini dinyatakan bahwa tujuan mereka adalah : “ kemerdekaan bagi Indonesia “. Dalam organisasi yang keras dan anti penjajahan ini Bung Hatta makin “tahan banting” karena banyaknya rintangan dan hambatan yang mereka hadapi.
Walau mendapat tekanan, organisasi Indonesische Vereeniging tetap berkembang bahkan Januari 1925 organisasi ini dinyatakan sebagai sebuah organisasi politik yang kemudian dinamai Perhimpunan Indonesia (PI). Dan dalam organisasi ini Bung Hatta bertindak sebagai Pemimpinnya.
Keterlibatan Bung Hatta dalam organisasi dan partai poltik bukan hanya di luar negeri tapi sekembalinya dari Belanda beliau juga aktif di PNI (Partai Nasional Indonesia) yang didirikan Soekarno tahun 1927. Dalam organisasi PNI, Bung Hatta menitik beratkan kegiatannya dibidang pendidikan. Beliau melihat bahwa melalui pendidikanlah rakyat akan mampu mencapai kemerdekaan. Karena PNI dinilai sebagai partai yang radikal dan membahayakan bagi kedudukan Belanda, maka banyak tekanan dan upaya untuk mengurangi pengaruhnya pada rakyat. Hal ini dilihat dari propaganda dan profokasi PNI tehadap penduduk untuk mengusakan kemerdekaan. Hingga akhirnya Bunga Karno di tangkap dan demi keamanan organisasi ini membubarkan diri.
Tak lama setetah PNI (Partai Nasional Indonesia) bubar, berdirilah organisasi pengganti yang dinamanakan Partindo (Partai Indonesia). Mereka memiliki sifat organisasi yang radikal dan nyata-nyata menentang Belanda. Hal ini tak di senangi oleh Bung Hatta. Karena tak sependapat dengan Partindo beliau mendirikan PNI Pendidikan (Partai Nasional Indonesia Pendidikan) atau disebut juga PNI Baru. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta bulan Agustus 1932, dan Bung Hatta diangkat sebagai pemimpi. Organisasi ini memperhatikan “ kemajuan pendidikan bagi rakyat Indonesia, menyiapkan dan menganjurkan rakyat dalam bidang kebathinan dan mengorganisasikannya sehingga bisa dijadakan suatu aksi rakyat dengan landasan demokrasi untuk kemerdekaan “.
Organisasi ini berkembang dengan pesat, bayangkan pada kongres I di Bandung 1932 anggotanya baru 2000 orang dan setahun kemudian telah memiliki 65 cabang di Indonesia. Organisasi ini mendapat pengikut dari penduduk desa yang ingin mendapat dan mengenyam pendidikan. Di PNI Pendidikan Bung Hatta bekerjasama dengan Syahrir yang merupakan teman akrabnya sejak di Belanda. Hal ini makin memajukan organisasi ini di dunia pendidikan Indonesia waktu itu. Kemajuan, kegiatan dan aksi dari PNI Pendidikan dilihat Belanda sebagai ancaman baru tehadap kedudukan mereka sebagai penjajah di Indonesia dan mereka pun mengeluarkan beberapa ketetapan ditahun 1933 diantaranya:
a. Polisi diperintahkan bertindak keras terhadap rapat-rapat PNI Pendidikan.
b. 27 Juni 1933, pegawai negeri dilarang menjadi anggota PNI Pendidikan.
c. 1 Agustus 1933, diadakan pelarangan rapat-rapat PNI Pendidikan di seluruh Indonesia.
Akhirnya ditahun 1934 Partai Nasional Indonesia Pendidikan dinyatakan Pemerintahan Kolonial Belanda di bubarkan dan dilarang keras bersama beberapa organisasi lain yang dianggap membahayakan seperti : Partindo dan PSII. Ide-ide PNI Pendidikan yang dituangkan dalam surat kabar ikut di hancurkan dan surat kabar yang menerbitkan ikut di bredel. Namun secara keorganisasian, Hatta sebagai pemimpin tak mau menyatakan organisasinya telah bubar. Ia tetap aktif dan berjuang untuk kemajuan pendidikan Indonesia.
Soekarno yang aktif di Partindo dibuang ke Flores diikuti dengan pengasingan Hatta dan Syahrir. Walau para pemimpin di asingkan namun para pengikut mereka tetap konsisten melanjutkan perjuangan partai. PNI Pendidikan tetap memberikan kursus-kursus, pelatihan-pelatuhan baik melalui tulisan maupun dengan kunjungan kerumah-rumah penduduk.
Dalam sidang masalah PNI Pendidikan M.Hatta, Syahrir, Maskun, Burhanuddin ,Bondan dan Murwoto dinyatakan bersalah dan dibuang ke Boven Digul (Papua). Demi harapan terciptanya ketenangan di daerah jajahan. Walau telah mendapat hambatan yang begitu besar namun perjuangan Hatta tak hanya sampai disitu, beliau terus berjuang dan salah satu hasil perjuangan Hatta dan para pahlawan lain tersebut adalah kemerdekaan yang telah kita raih dan kita rasakan sekarang.
Sebagai tulisan singkat mengenai sejarah ketokohan Muhammad Hatta di organisasi dan partai politik yang pernah beliau geluti, kita haruslah dapat mengambil pelajaran dari hal ini. Karena sejarah tak berarti apa-apa bila kita tak mampu mengambil manfaat dan nilai-nilai positif didalamnya. Dari kehidupan Hatta di dunia politik kita bisa melihat bahwa : Munculnya seorang tokoh penting dan memiliki jiwa patriot yang tangguh dan memikirkan kehidupan orang banyak serta memajukan bangsa dan negara “bukan hanya muncul dalam satu malam” atau bukanlah tokoh kambuhan yang muncul begitu saja, dan bukanlah sosok yang mengambil kesempatan untuk tampil sebagai pahlawan dan sosok pemerhati masyarakat. Tapi tokoh yang dapat kita jadikan contoh dan panutan dalam organisasi, partai, dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesunguhnya adalah seorang sosok yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat, ia terlatih untuk mampu memahami keinginan dan cita-cita masyarakat, serta bertindak dengan menggunakan ilmu dan iman.
Seiring dengan meruaknya wacana demokrasi, terutama di era reformasi kita bisa melihat bahwa di Indonesia berkembang berbagai partai baru yang jumlahnya telah puluhan. Dalam kenyataanya memunculkan nama-nama baru sebagai tokoh, elit partai, elit politik yang berpengaruh di berbagai partai tersebut. Ada juga tokoh politik yang merupakan wajah-wajah lama yang konsisten di partainya atau beralih membentuk partai baru. Apakah mereka sudah pantas dikatakan sebagai tokoh, elite politik / elite partai?. Sebagai salah satu sosok tokoh ideal, dengan mencontoh ketokohan Bung Hatta kita harus mampu melihat berapa persen diantara tokoh-tokoh, orang-orang penting, elite politik / elite partai di Indonesia sekarang yang telah memperhatikan kehidupan masyarakat, berapa persen diantara mereka yang sudah melakukan usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat Indonesia baik di bidang ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain.
Dalam kenyataannya, kebanyakan kita melihat tokoh politik, elite politik dan tokoh-tokoh partai di Indonesia dewasa ini kurang memperhatikan kehidupan dan kemajuan masyarakat. Mereka hanya mengambil simpati masyarakat disaat-saat mereka membutuhkan suara dan partisipasi penduduk, seperti saat-saat akan diadakannnya pemilihan umum (nasional), saat diadakannya pemilihan kepala daerah (Pilkada), setelah kegiatan itu berlangsung mereka mulai meninggalkan dan melupakan masyarakat. Namun ada beberapa partai dan tokoh yang sering terlihat dalam berbagai kegiatan social dan memperhatikan masyarakat.
Apakah kita masih menganggap bahwa seorang penjahat, pemaling (koruptor) yang lolos dari sergapan hukum sebagai tokoh panutan kita di organisasi, partai politik, pemerintahan, atau kehidupan sehari-hari?. Jadi pantaslah kita belajar dari ketokohan Muhammad Hatta dalam kehidupan politiknya yang selalu bertindak demi kesejahteraan dan kemajuan rakyat Indonesia.

BERWISATA KE “NAGARI PAHLAWAN”

BERWISATA KE “NAGARI PAHLAWAN”
Oleh :Irwan Setiawan

Perubahan cara kepemimpinan yang bersifat sentralistik ke sistem otonomi di Indonesia membawa dan melibatkan daerah-daerah untuk mampu memenuhi dan mencukupi keuangan masing-masing. Otonomi daerah juga memunculkan berbagai ide untuk pengembangan dan usaha memajukan daerah. Bagi daerah-daerah penghasil tambang, dan potensi kekayaan bumi lainnya akan lebih mudah mengatisipasi perubahan ini, karena mereka umumnya mampu memenuhi keuangan daerah sendiri. Tapi masalah akan terasa bagi daerah-daerah yang dasarnya memerlukan dana dari pemerintah pusat karena keterbatasan potensi kekayaan alam.
Agam adalah salah satu Kabupaten di Sumatera Barat yang tak memiliki potensi tambang untuk skala besar. Tapi pada sebenarnya Agam mempunyai berbagai potensi wisata yang seharusnya bisa dikembangkan dan di promosikan untuk skala lokal, nasional bahkan internasional. Hal ini dapat dijadikan sebagai koreksi atas perkembangan dunia wisata Agam yang tertinggal dibanding Bukittinggi sebagai tetangga terdekatnya. Selama ini potensi wisata Agam lebih diarahkan ke daerah Maninjau dan sekitarnya dengan panorama danau dan keindahan alam di Puncak Lawang.
Salah satu daerah wisata di Agam yang jarang disinggung dan masih kurang di promosikan adalah objek wisata di Nagari Kamang Mudiak. Sebagai sebuah nagari bersejarah, daerah ini sebenarnya adalah daerah yang menjanjikan untuk dunia wisata Kabupaten Agam. Dengan jarak sekitar 12 km dari Bukittinggi atau hanya memerlukan waktu perjalanan 20 menit dari Bukittinggi kita dapat langsung sampai di nagari yang unik ini.
Dalam tinjauan historis Sumatera Barat tentu semua orang tahu tentang peristiwa Perang Paderi yang bergejolak tahun 1820-an sampai tahun 1830-an dan salah satu tokoh pentingnya adalah Tuanku Nan Renceh yang berdomisili di Jorong Bansa, Kamang Mudiak yang makamnya sampai sekarang masih terawat dengan baik. Peristiwa penting lain yang pernah terjadi adalah Perang Kamang yang meletus tahun 1908 dengan tokoh-tokoh pahlawan dari Kamang Mudiak dan Kamang Hilir. Perang Kamang sebagai sebuah usaha menentang tindak pemerasan oleh Kolonial Belanda yang terjadi dengan pemungutan pajak (blasting) yang memberatkan bagi masyarakat, perjuangan ini dipimpin oleh H. Abdul Manan yang berasal dari dusun Kampuang Budi, Pakan Sinayan. Untuk mengenangnya kita dapat melihat dan berziarah ke makam-makam para pahlawan tersebut di Jorong Pakan Sinayan, Kamang Mudiak.
Selain menyajikan objek wisata sejarah, daerah Kamang Mudiak juga memberi pesona wisata alam yang semua objeknya dapat dilewati dalam satu rute perjalanan. Apabila kita datang ke Kamang Mudiak melewati jalur Bukittinggi, Pakan Kamis ,dan sampai di Pakan Sinayan, maka kita akan disambut oleh Tugu Perang Kamang 1908 di daerah Pakan Sinayan kemudian perjalanan dapat di lanjutkan ke Ngalau Tarang Batu Biaro di jorong yang sama. Ngalau Tarang adalah sebuah sebuah panorama goa yang terdapat di kaki bukit dengan pesona yang mengagumkan dengan stalagtit dan stalagmit yang terdapat di dalam gua. Masyarakat sekitar memahami tempat ini sebagai sebuah legenda yang dahulunya berasal dari sebuah kapal, kemudian dikutuk hingga menjadi batu. Tiap sudut gua disebut-sebut memiliki spesifikasi dan penamaan-penamaan batu tersendiri. Ada batu kaki menggantung, batu kepala raja, batu singa, batu gajah, batu buaya, batu kain bersusun, batu ibu menyesui. dan berbagai penamaan lainnya. Dibagian depan Ngalau Tarang Batu Biaro terdapat sebuah batu besar dan di lewati oleh sebuah bandar (sungai kecil).
Setelah dari Jorong Pakan Sinayan, kita akan memasuki Jorong Bansa, disini kita dapat singgah ke makam Tuanku Nan Renceh sebagai pahlawan Perang Paderi. Kemudian perjalanan wisata akan memasuki Jorong Babukit dan Halalang. Disini kita bisa menikmati keidahan alam, yaitu terdapatnya sebuah danau mini yang disebut masyarakata dengan Tarusan. Tarusan dikelilingi oleh Bukit Barisan yang menambah pesona daerah yang asri. Bagi pecandu pancing ikan dapat langsung membawa pancingan atau kailnya. Kita bisa memancing dengan leluasa karena penduduk setempat menyediakan rakit yang dapat dipinjam untuk memancing dan kita tak perlu membayar retribusi untuk memancing. Berbagai jenis ikan air tawar terdapat di danau mini ini. Tapi ikan spesifik yang jarang ditemukan di daerah lain yaitu Pantau. Pantau merupakan ikan dengan ukuran tubuh yang kecil, tapi kalau dari rasa dan enaknya tak kan tertinggal dari rasa enak, gurih ikan-ikan air tawar lainnya.
Keunikan dari Tarusan adalah airnya yang sering pasang-surut dalam waktu yang tak dapat diperhitungkan. Terkadang air Tarusan penuh dan terisi dengan ikan yang tak diketahui asalnya secara pasti. Dan dimasa berikutnya air Tarusan akan surut dan habis, hingga ikan-ikan biasanya tertinggal di taman-taman (kolam-kolam) yang dibuat penduduk sebagai penampung ikan disaat air surut. Kemudian di dalam Tarusan tersebut masyarakat sekitar akan bersawah hingga airnya terisi lagi.
Melanjutkan perjalanan dari Jorong Halalang kita menelusuri kaki Bukit Barisan, sesampainya di daerah Jorong Kapecong dan Padang Kunyik kita juga dapat berhenti melepas lelah di bawah pohon-pohon di tepi jalan. Kita dapat melihat pemandangan yang indah di Panorama Lengkok. Lukisan alam yang dapat kita saksikan adalah aggun dan kokohnya Gunung Merapi dan Singgalang yang berdampingan dengan lantang dan jelas, serta dibagian bawah lereng bukit kita dapat menyaksikan padi nan menguning. Sebuah pemandangan yang mengagumkan.
Dari Jorong Padang Kinyik wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Jorong Durian yang menyediakan sebuah objek wisata Ngalau Kamang. Ngalau ini adalah sebuah goa yang curam, bila ditelusuri kita akan terbawa masuk kedalam perut Bukit Durian dengan panjang rute lebih kurang 1 km. Untuk masuk kedalam gua ini kita harus menggunakan penerangan yang lengkap karena gelapnya suasana di dalam ngalau. Bagi yang tidak membawa penerangan sendiri bisa meminjam lampu petromaks dari penduduk setempat dengan biaya ganti minyak Rp 10.000,-. Sesampai di dalam gua kita akan disuguhkan dengan bebatuan yang meneteskan air-air yang jernih. Disana sini kita bisa melihat stalagmit dan stalagtit beserta sebuah sungai kecil yang mengalir didalamnya yang menambah keindahan pesona Ngalau Kamang. Menurut tuturan sejarah masyarakat sekitar, goa ini pernah dijadikan tempat persembunyian para pejuang, bahkan dalam sebuah buku yang pernah penulis baca bahwa di Ngalau Kamang pernah ditemukan alat serpih yang merupakan peninggalan masyarakat Pra Sejarah Indonesia. Semua objek yang kita kunjungi tadi dapat didatangi tampa harus membayar retribusi.
Begitulah sepintas perjalanan wisata yang bisa kita nikmati di Kamang Mudiak. Namun ada tips yang dapat penulis beri bila akan berwisata ke “Nagari Pahlawan” itu. Sebaiknya anda menggunakan transportasi pribadi baik motor maupun mobil karena bila menggunakan kendaraan pribadi anda akan mudah mencapai tempat-tempat menarik tadi dalam satu rute perjalanan. Dan objek-objek wisata tadi jaraknya pun tak jauh dari jalan-jalan kabupaten sehingga ketika anda meninggalkan kendaraan pribadi pasti akan tetap aman. Tips ini diberikan juga dikarenakan belum adanya mobil umum yang langsung mengitari Nagari kamang Mudiak, sehingga akan butuh waktu untuk melihat objek-objek tadi. Bagi yang pergi ke Kamang Mudiak dengan kendaraan umum dapat menaiki mobil K-01 yang ngetem di sekitar Pasar Bawah atau di Aur Kuning, Bukittinggi. Dan untuk mempermudah perjalanan di Kamang Mudiak kita juga bisa menggunakan jasa ojek yang mangkal di Pakan Sinayan, atau di jorong Durian. Dan jangan lupa membawa kamera karena kalau sampai terlupakan kita tak bisa mengabadikan perjalanan menarik ini.
Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seperti makan, makanan ringan dan minuman anda tak perlu cemas karena di daerah ini anda dapat menukan warung-wurung yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Kedatangan anda di Kamang Mudiak akan makin menarik bila kita berkunjung di hari Senin atau Jumat, karena di hari itu akan ada pasar (hari balai). Dengan menu makanan di pasar seperti katupek (ketupat), cindua (cendol), dan makanan tradisional lainnya.
Setelah kita melewatkan hari di Kamang Mudiak, anda dapat membawa oleh-oleh berupa karupuak kamang (Kerupuk Kamang) yang dibuat masyarakat setempat. Kerupuk ini dapat dibeli langsung ke rumah-rumah pembuatnya atau di beli di sekitar Pakan Sinayan. Saat membelinya kerupuk ini masih dalam keadaan mentah, sehingga sesampainya dirumah kita dapat langsung menggoreng dan menyantapnya bersama keluarga. Kriuk,,,kriuk dan gurihnya akan terus lengket dilidah. Hal ini menjadikan perjalanan wisata kita akan makin berkesan.
BUKIT BARISAN
Rute wisata Kamang Mudiak 6
ket:
1. Tugu Perang kamang 7 5
2. Ngalau Tarang 2
3. Makam pahlawan perang kamang 4 2
4. Makam Tuanku Nan renceh 3 11
5. Tarusan. 1
6. Panorama Lengkok
7. Ngalau kamang.
Dari Bukittinggi Dari Bukittinggi

KEBUN BINATANG BUKITTINGGI DALAM LINTAS SEJARAH

KEBUN BINATANG BUKITTINGGI DALAM LINTAS SEJARAH
(1900-1949)

oleh: Irwan Setiawan*


A. Pendahuluan

Bukittinggi adalah salah satu kota yang diakui memiliki peran dan pengaruh dalam perjalanan sejarah Indonesia. Penulisan sejarah kota ini telah diusahakan oleh berbagai peneliti yang membahas aktifitas sosial ekonomi, politik. Sebagai bagian daerah darek di Sumatera Barat, kota ini mulai meliki nilai lebih dan diutamakan sejak Belanda mulai aktif menekan pihak Paderi dimasa berkecamuknya Perang Paderi 1821-1837. Dan pada tahun 1888, Belanda mengusahakan perluasan kota ini, yang mencapai 75% dari daerah Kanagarian Kurai Limo Jorong.
Sebuah keunikan yang jarang dikaji dan ditulis seiring dengan perjalanan sejarah Kota Bukittinggi adalah sejarah objek wisata kebun binatang Bukittinggi, yang bila dilakukan penelitian lebih lanjut dapat dilihat bahwa munculnya kebun binatang tertua kedua di Indonesia itu berkaitan erat dengan sejarah penguasan kota ini oleh Pemerintahan Kolonial Belanda.
Penguasaan daerah Bukittinggi oleh Belanda diikuti dengan usaha membuat dan menyediakan berbagai sarana bagi para penguasa Belanda yang ada di kota ini. Untuk melepas lelah dan bersantai setelah bekerja, maka Pemerintah Kolonial Belanda membuat sebuah taman, kebun bunga yang mereka kembangkan hingga menjadi sebuah kebun binatang.
Untuk melihat perkembangan institusi kebun binatang Bukittinggi ini dilakukanlah penelitian sejarah yang juga memanfaatkan alat bedah dari teori manajemen. George R. Terry dalam buku “Principles Of Management” menyatakan bahwa demi keefektifan kerja, dan kemajuan sebuah lembaga harus memiliki fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning).
Mengandung pengertian sebagai proses kegiatan, usaha, pekerjaan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan secara berkoordinasi dan terarah dalam melaksanakan sesuatu[1]. Mereka menentukan garis besar untuk dapat memulai usaha.
2. Pengorganisasian (Organizing).
Dalam proses pengorganisasian ini diadakanlah penggolongan dengan tugas sendiri-sendiri. Masing-masing mendapat kekuasaan yang diberikan kepadanya, dari pihak yang berkedudukan lebih tinggi[2].
3. Penggerakan (Actuating).
Adalah proses untuk menggerakkan seseorang untuk bereaksi (bekerja) dan untuk melaksanakan suatu kegiatan secara fisik maka diambillah tindakan yang bersifat: kepemimpinan, perintah, instruksi, communication (hubung menghubungi), dan nasehat.
4. Pengawasan (Controlling).
Adalah proses untuk mengecek apa yang telah dilakukan, guna memastikan apakah pekerjaan orang-orangnya berjalan dengan memuaskan dan menuju kearah yang diharapkan[3].
Jadi dalam melihat perkembangan Kebun Binatang Bukittinggi, disini peneliti juga ikut melihat perkembangan pola manajeman, sehingga bisa dilihat bagaimana cara pengelolaan yang baik demi mencapai kemajuan yang optimal.

B. Berkuasanya Pemerintahan Kolonial Belanda di Bukittinggi.

Bangsa Belanda pertama kali mendarat di Padang tahun 1818. Mereka berusaha mendapatkan kedudukan di daerah Sumatera Barat dengan jalan melibatkan diri dalam konflik yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok agama. Bahkan Belanda ikut aktif membantu kelompok adat menekan kelompok agama dalam Perang Paderi 1821-1837[4].
Belanda melakukan usaha penekanan kelompok agama di sekitar Agam, Pasaman yang ditindak lanjuti dengan pembuatan perjanjian persahabatan dengan Penghulu Kurai Lomo Jorong yang berisi: adanya kerjasama dan usaha bersama kelompok adat (yang diwakili penghulu) dengan Belanda dalam menekan kelompok agama. Kesepakatan ini dibuat tahun 1820, dan hasil perjanjian ini ditindak lanjuti dengan pemberian izin oleh Penghulu Kurai Lomo Jorong pada Belanda untuk mendirikan benteng di daerah ini dalam tahun 1825/1826. Saat itu Kapten Bauer mendirikan Benteng Sterreschant yang kemudian lebih dikenal dengan Benteng Fort De Kock di Bukit Jirek[5]. Benteng inilah yang menjadi cikal bakal penguasaan dan perluasan kekuasan Belanda di Bukittinggi, Agam dan Pasaman. Penguasaan Belanda berlanjut ke Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malambung yang merupakan areal pengembangan Kebun Binatang Bukitinggi[6].
Didaerah-daerah penguasaan Belanda itulah didirikan beberapa kantor, rumah pemerintah sipil, rumah rapat, kompleks kuburan, pasar, sarana dan prasarana transportasi, sekolah serta sarana rekreasi[7]. Untuk memperkuat kedudukan Belanda mereka memanfaatkan pemimpin-pemimpin tradisional Minangkabau. Untuk daerah Bukittinggi, Agam yang disebut dengan Staats Gementee Fort De Kock dikepalai oleh seorang Controleur yang dijabat oleh orang Belanda. Mereka memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat terutama pemimpin-pemimpin adat di nagari-nagari Agam, Bukittinggi. Masyarakat menyebutnya dengan “Tuanku Kumentur” (Tuanku Kumandua), ia sangat ditakuti, berhak mengeluarkan instruksi-instruksi yang harus dijalankan rakyat, mengeluarkan hukum bagi pelanggar[8]

B. Kebun Bunga (Strom Park) sampai Kebun Binatang Bukittinggi (Fort De Kocksche Dieren Park).

Bukit Malambuang adalah salah satu bukit yang terdapat di kawasan Bukittinggi, dengan posisi yang bersebelahan dengan Bukit Jirek (Benteng Fort De Kock) dan Bukit Kubangan Kabau (Pasar Atas sekarang). Berdasarkan Meetderief Nomor 78 Register No 353 tanggal 30 Agustus 1933 Bukit Malambung memiliki luas 33.620 M 2, dengan ketinggian 924 M diatas permukaan laut dengan iklim pegunungan (sub tropis) bersuhu 18-22 °C. Di puncak bukit ini terdapat dataran yang sering dipakai anak nagari untuk melakukan pertandingan adu perkutut, manaikkan layang-layang (melambungkan layang-layang), dan berbagai permainan lain. Sedangkan dibagian lereng lainnya terdapat area pemakaman penduduk di sekitar kawasan Bukit Malambuang[9]. Karena panorama bukit yang begitu indah, maka disore hari anak nagari dan masyarakat Bukittinggi sering bersantai dan melepas lelah di area puncak bukit ini. Dari sana mereka dapat menikmati panorama Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Sago, Gunung Pasaman, dan Ngarai Sianok[10]. Bukit malambuang juga dijadikan sebagai tempat mengembalakan kambing, sapi dan domba milik orang-orang keling (keturunan India)[11].
Sejak diberikannya kekuasaan atas tanah di Bukit Jirek oleh Penghulu Kurai Limo Jorong pada Belanda, apalagi setelah keluarnya Surat Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda No. 1 Tahun 1888, yang berisi tentang perluasan penguasaan Belanda di Bukittinggi secara otomatis mereka telah memiliki hak dalam pengelolaan beberapa bukit di daerah Bukittinggi. Perluasan kekuasaan Belanda ini diistilahkan masyarakat dengan “tajua nagari ka Bulando” [12].
Karena ketertarikan atas keindahan panorama di Bukit Malambuang serta telah adanya kekuatan hukum yang dimiliki Belanda, maka Controleur Belanda di Bukittinggi yang bernama Gravenzanden melakukan pengembangan bukit ini dengan menjadikannya kebun bunga “strom park”. Atas perintahnya semak-semak di Bukit Malambuang dibersihkan, dilanjutkan dengan pemindahan kuburan masyarakat yang terdapat di area ini. Setelah itu ditanamlah berbagai jenis pohon, bunga, pembuatan taman-taman, bangku-bangku sebagai tempat bersantai. Bahkan di tengah-tengah tanah lapang di puncak bukit dibuatlah sebuah lapangan tenis yang dinamai Lapangan Tenis Baan[13]. Pekerjaan untuk pembersihan area bukit, terpaksa memindahkan kuburan masyarakat. Untuk itu diberikanlah ganti rugi untuk pihak keluarga sebanyak 5-20 gulden[14]. Setelah dilakukannya perubahan dan perbaikan ini, ternyata kebun bunga lebih diperuntukkan bagi para penguasa Belanda di Bukittinggi[15]. Karena area kebun bunga hanya dijadikan sebagai tempat beristirahat, melepas lelah disore hari maka taman ini tidak memiliki pengelola secara resmi. Penamaan kebun bunga ini masih akrab dengan masyarakat Sumatera Barat sampai tahun 1980-an, masyarakat menyebutnya dengan “kabun bungo” [16].
Karena makin kuatnya determinasi kekuasaan Belanda di Indonesia dan termasuk di Bukittinggi ternyata ikut memberi pengaruh pada perubahan dan arah kebijakan pemerintah Belanda terhadap kebun bunga. Hal ini dapat dilihat dengan diberikannya hak bagi pengembangan taman bunga pada pihak yang tertarik untuk memperbaikinya. Drh. J. Heck seorang dokter hewan di kota Bukittinggi, Groeneveld seorang Asisten Resident Van Agam yang merangkap sebagai Voortter-Gemeente-Raad Fort De Kock, J.H Schalling merupakan sekretaris Van de Geemente-Raad Fort De Kock, Edwar Jacoboan seorang hartawan berkebangsaan Belanda. Mereka berusaha menjadikan kebun bunga (strom park) yang dikembangkan sejak tahun 1900 untuk dijadikan kebun binatang[17].
Sebuah hal menarik yang pernah terjadi di Indonesia adalah dengan didatangkannya arsitek Belanda ke Indonesia pada tahun 1900-an, mereka bekerja di kotamadya (gemente) di seluruh Indonesia[18]. Sebagai pola umum pada kota yang dikembangkan oleh para arsitek Belanda, mereka berusaha membuat sebuah taman kota dan tempat bersantai di daerah kotamadya yang dikembangkan[19]. Nampaknya kebijakan dan usaha permbaharuan oleh para arsitek Belanda ini juga terjadi di Bukittinggi sehingga pemerintah Hindia Belanda memberi peluang agar kebun bunga dikembangkan menjadi kebun binatang sekaligus sebuah area taman kota untuk sarana rekreasi dan bersantai.
Karena berbagai dukungan itu, maka tanggal 3 Juli 1929 kebun bunga (strom park) dirubah dan dikembangkan menjadi kebun binatang yang dinamai “Fort De Kocksche Dieren Park” atau Kebun Binatang Bukittinggi, sejak itulah dibangun kandang-kandang yang bagus (dimasa itu) dan permanen untuk penempatan hewan-hewan koleksi kebun binatang[20]. Pada tahap awal pembangunan kebun binatang ini dibuatlah kandang-kandang binatang koleksi dengan bentuk persegi sebelas. Tiap sudut ditarik batas ketengah pohon beringin yang merupakan pusatnya. Pada bulan Juli1929 itu, Kebun Binatang Bukittinggi diisi dengan hewan koleksi sederhana seperti: burung, kelinci, ayam hutan, dan kuaw. Karena makin banyaknya jenis koleksi hewan burung yang terdapat di kebun binatang, maka A.Murad Sutan Batuah, seorang kepercayaan Belanda di kebun binatang memperbaiki kandang-kandang burung agar lebih baik dan aman dari gangguan tikus. Kemudian dilanjutkan dengan pembatasan area Bukit Malambuang dengan kawat berduri sehingga anak nagari yang biasa bermain disana menjadi terhalang dan tak dapat lagi menggunakan lokasi ini sebagai tempat bermain[21]. Untuk perkembangan selanjutnya dibuat pula kandang rusa, kandang kasuari, kandang kambing hutan, kandang singa, dari terali besi bekas penjara militer Belanda di Lubuk Basung[22].
Dalam mendatangkan koleksi-koleksi hewan baru pihak pengelola kebun binatang dibantu pula oleh Groeneveld yang merupakan Asisten Resident Agam dan merangkap Voorzitter Gemeente-Raad Fort De Kock dapat dengan mudah mendatangkan satwa-satwa yang di butuhkan dan ditemukan dari sekitar kawasan Agam dan Bukittinggi[23]. Tentu dapat kita bayangkan bagaimana keadaan alam dan satwa liar dimasa itu tentu jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Lingkungan yang masih asri, perburuan yang masih kurang, tentu membuat koleksi kebun binatang dapat dilengkapi dengan mudah. Dan sebuah budaya orang-orang Belanda dimasa penjajahan yang mendukung pengembangan kebun binatang adalah kebiasaan berburu hewan-hewan liar di daerah-daerah perbukitan yang hasil buruannya diserahkan pada pihak pengelola kebun binatang[24].
Dibidang kepemimpinan dan pengelolaan Kebun Binatang Bukittinggi ternyata Belanda tidak main-main, ia memilih dan mempercayakan kepemimpinannya pada A.Murad St. Batuah, seorang pribumi yang dinilai memiliki profesionalisme dan integritas yang tinggi bagi pengembangan kebun binatang tersebut. Ia dipercaya dari tahun 1929-1932. Sebagai pemimpin pertama kebun binatang ia dinilai cukup berhasil. Setiap kegiatan dan usahanya dilaporkan pada Drh,J. Heck, Groeneveld, J.H. Schalling, Edwar Jacoboan yang bertindak sebagai tim pengontrol dan penilai keberhasilan institusi ini.
Setelah periode kepemimpinan A. Murad St.Batuah, beliau digantikan oleh Van Ommen dari tahun 1932-1933. Dimasa kepemimpinannya beliau berhasil meningkatkan jumlah koleksi kebun binatang karena adanya tenaga ahli dan ketersidiaan dana[25]. Setelah periode kepemimpinan Van Ommen ia digantikan oleh Opstal yang merupakan seorang bekas tentara Belanda (eks KNIL) . Dimasa kepemimpinannya dari tahun 1933 ternyata kebun binatang ini mengalami masa gemilang dengan mampu melengkapi jumlah koleksi kebun binatang. Kebun Binatang Bukittinggi mampu mensuplai 150 ekor binatang koleksi khas Sumatera ke Kebun Binatang Surabaya yang telah berdiri sejak tahun 1916 dan untuk kompensasinya Kebun Binatang Surabaya mengirim koleksi binatang khas Indonesia timur ke Bukittinggi [26]. Tahun 1934 pimpinan kebun binatang digantikan oleh Smith, 1935 dipimpin oleh Nutzman, Schap tahun 1936, dan Drh. Bernecker merupakan dokter hewan dari Belanda yang bertugas di Bukittinggi yang memimpin dari tahun 1936-1937[27]. Dalam periode 1931-1935 dilakukan pembangunan kandang-kandang baru yang diisi dengan harimau, beruang hitam, macan tutul, orang hutan, ular, anoa, buaya, dan banteng liar. Dari segi pengunjung diperiode ini hanyalah untuk orang Belanda[28]. Tempat ini hanya diperuntukkkan bagi para penguasa Belanda yang ingin bersantai.
Masa kepemimpinan Nutzman tahun 1935, munculah ide untuk melakukan penambahan sarana di Kebun Binatang Bukittinggi (Fort de Kocksche Dieren Park) yaitu usaha pembangunan rumah gadang baanjung di area kebun bintang. Untuk peletakan batu pertamanya dilakukan tanggal 1 Juli 1935. Rumah Gadang Baanjuang ini berukuran 36,5 x 10 M2 dengan 7 gonjong. Rumah gadang ini bertipe gajah maharam yang merupakan jenis rumah koto piliang yang memiliki anjungan di bagian kiri dan kanan. Untuk melengkapi dengan arsitektur standar minang, maka tahun 1955/1956 dilengkapi dengan pembangunan rangkiang sibayau-bayau, sitinjau lauik, dan ditambah dengan dibangunnya rumah tabuah. Sebagai fungsi utamanya rumah gadang ini dijadikan sebagai museum yang mengoleksi barang-barang sejarah dan barang budaya[29].
Rumah gadang ini di kerjakan oleh tukang-tukang dari Panyalaian Padang Panjang, Lasi IV Angkek Candung. Kayu sebagai bahan utama didatangkan dari daerah sekita Bukittinggi, atap menggunakan ijuk yang dibawa dari Batusangkar dan Solok. Setiap ukiran memiliki nilai filosofi dan estetika Minangkabau[30]. Untuk melengkapi prasarana maka dibangun pula sebuah restoran oleh pengusaha Cina di area kebun binatang ini pada tanggal 1 September 1935[31].
Tahun 1937-1938 tidak diketahui siapa pemimpin kebun binatang, barulah tahun 1938 kebun binatang ini dipimpin oleh Drh. Bernecker sampai tahun 1945. Beliau memimpin kembali kebun binatang ini untuk yang kedua kalinya. Dimasa kepemimpinan nya yaitu tahun 1941 datanglah pemimpin Kebun Binatang Surabaya Scoemacher ke Bukittinggi dan ia berkujung ke Kebun Binatang Bukittinggi. Setelah melihat keadaan Kebun Binatang Bukittinggi, Scoemacher memuji Kebun Binatang Bukittinggi “inilah kebun binatang yang terbaik dan terindah di Hindia kita”. Hal ini merupakan sebuah penghargaan yang diberikan atas kelengkapan koleksi, kebersihan dan keindahan Kebun Binatang Bukittinggi yang waktu itu telah memiliki 155 macam koleksi satwa[32]. Kebersihan kebun binatang dilengkapi dengan adanya air bersih untuk minum dan mandi satwa yang dipelihara sehingga menghasilkan banyak keturunan. Dari segi kedudukan organisasi kebun binatang ini yang disebut dengan Dieren Park / Dieren Tuin Fort De Kocksche (Kebun Binatang Bukittinggi). Organisasi ini memiliki status sebagai bagian dari pemerintahan Staad Gemeente Fort De Kock yang memiliki 21 orang pegawai[33]. Sehingga dari segi kedudukan dan perhatian pemerintah tentunya akan lebih optimal.
Tahun 1941 pengelolaan kebun binatang Bukittinggi yang telah ditata oleh Belanda, memiliki struktur organisaasi tersendiri yang telah membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing bagiannya.
Direktur : Drh.MF.Berbecker
(merangkap kepala dinas pasar dan rumah potong Fort De Kock)Struktur Organisasi Kebun Binatang Bukittinggi tahun 1941.


Mandor: Thahar Sutan Mudo
Kepala Bagian Rumah Gadang: Nawi Sutan Bagindo
Bendahara: Makmur Datuiak Palindih
Kepala Bagian Bangunan: Datuak Magek
Penjual karcis: Apan Sutan Sari Pado
Pekerja Biasa : 15 Orang














Sumber: Edison, Skripsi, Taman Bundo Kanduang 1980-1993
Karena makin banyaknya masyarakat yang tertarik untuk mengunjungi kebun binatang maka mulailah dilakukan pengembangan dengan memberi kesempatan bagi masyarakat umum untuk bisa masuk dan melihat koleksi kebun binatang. Pada tahun 1941 diberlakukanlah karcis masuk bagi pengujung. Karcis untuk dewasa 10 sen, untuk anak-anak 5 sen ( sebagai perbandingan harga nasi bungkus waktu itu adalah 2,5 sen). Sedangkan untuk anggaran dana pemerintah Hindia Belanda untuk kebun binatang adalah 800 gulden (sebagai perbadingan harga emas waktu itu adalah, 1 emas 1,6 gulden) dan dana didukung sepenuhnya oleh Assistant Residen Agam waktu itu yaitu Burgemeester Nydam dan sekretaris walikota Fort De Kock Grvutes[34]. Karena mahalnya harga karcis masuk pada waktu itu, maka yang mengunjungi kebun binatang hanyalah dari kelompok orang-orang menengah ke atas sedangkan bagi masyarakat biasa, umumnya hanya mengunjungi kebun binatang sekali dalam setahun yaitu saat hari raya Idul Fitri dan sebagian ada yang berkunjung saat sanak saudara pulang dari rantau dan ingin bertamasya di Bukittinggi[35].

C. Kebun Binatang Bukittinggi dimasa Pendudukan Jepang dan Diawal Kemerdekaan.

Tahun 1942 Jepang telah berkuasa di Indonesia, termasuk di Kota Bukittinggi. Daerah ini diberi nama “Bukittingggi Shi Yasuko”, yang dari segi daerah kekuasaanya lebih luas dari masa pemerintahan Kolonial Belanda. Dengan mencakup daerah Kurai Limo Jorong, Ngarai Sianok, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba, Bukit Batabuah, dan beberapa daerah yang masuk dalam daerah Agam sekarang[36]. Keadaan ini bertahan sampai tahun 1945. Dimasa kekuasaan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai tempat kedudukan Komandemen Militer se Sumatera dengan komandonya yang bergelar Saiko Sikikankakka dibawah Jendral Kabaya Shi[37].
Diawal kedatangan Jepang ke Kota Bukittinggi, tepatnya 21 Maret 1942 dengan semboyan “Asia Untuk Asia” mulai mendapat simpati sebagaian masyarakat. Namun seiring dengan penguasannya di Indonesia yang telah melakukan berbagai kekerasan, mulailah muncul pergolakan dan usaha penentangan terhadap kekuasaan Jepang, termasuk di Bukittinggi. Perlawanan terhadap Jepang di Kota Bukittinggi yang terkenal dilakukan oleh Syamsuddin dan Abbas Rahman[38].
Terjadinya kekacauan politik di Kota Bukittinggi, berdampak buruk terhadap pengelolaan kebun binatang. Jepang sama sekali tidak memperhatikan keadaan kebun binatang, malahan mereka merusak saluran air untuk kebun binatang dan mengalihkannya untuk keperluan tentara Jepang. Banyak satwa-satwa penghuni kebun binatang yang ditembaki dan di bayonet. Sekeliling kebun binatang dibuat lobang-lobang untuk pertahanan tentara jepang di Bukittinggi[39]. Terowongan atau lobang-lobang yang dibuat Jepang di sekitar area kebun binatang terhubung dengan Lobang Jepang yang dibuat dengan kerja paksa dan penderitaan bagi pekerjanya yang berasal dari orang-orang Sumatera Barat[40]. Pembuatan Lobang Jepang yang dilakukan di Bukittinggi adalah usaha mengembangkan kota bawah tanah dan sebagai tempat pertahanan Jepang. Titik-titik penyebaran lobang kota bawah tanah ini menyebar di sekitar kota Bukittinggi[41].
Sebagai pengaruh dari minimnya perhatian terhadap kebun binatang banyaklah satwa-satwa peliharaan yang mati, dibunuh, dan tak terawat, sehingga banyak kandang-kandang yang satwa yang kosong[42].
Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, Jepang kalah dalam perang menghadapi sekutu yang berakibat pada lemahnya kekuatan Jepang di Indonesia. Hal ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pemimpin-pemimpin Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Pada tanggal 17 Agustus 1945 berkumandanglah proklamasi Indonesia yang menjadi tonggak sejarah lahirnya Indonesia merdeka.
Pasca kemerdekaan Indonesia, politik tidak serta merta mengalami perubahan kearah kestabilan. Indonesia sebagai sebuah negara baru sibuk berbenah dan mempersiapkan badan-badan yang diperlukan untuk sebuah Negara merdeka. Selain itu keadaan masyarakat sat itu sangat memperihatinkan, mereka hidup menderita, tertindas, kelaparan dan nyaris tanpa pakaian[43].
Keadaan kebun binatang sangat menghawatirkan, tanpa pengelola. Demi menjaga dan menyelematkan Kebun Binatang Bukittinggi maka ketua Komite Nasional Indonesia kota Bukittinggi yaitu: M.Z. Dt. Maharajo menunjuk A. Murad St. Batuah sebagai pimpinan kebun binatang[44]. Karena keadaan yang belum aman, maka dimasa kepemimpinan A. Murad St. Batuah setelah kemerdekaan ini tidak banyak perubahan yang dapat beliau perbuat. Masa jabatan beliau dimulai tahun 1945-1949.
Melihat perubahan situasi politik di Indonesia sejak kedatangan Jepang tahun 1942 sampai periode awal kemerdekaan tahun 1949 dapat disimpulkan bahwa keadaan politik, ekonomi, sosial yang tidak stabil menyebabkan pengelolan kebun binatang mengalami masalah besar bahkan nyaris ditutup karena ketiadaan pengelola.

D. Penutup.

Kebun Binatang Bukittinggi yang sekarang bernama Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan telah melewati masa-masa panjang. Institusi ini ikut mengiringi sejarah kota Bukittinggi. Keadaan politik, ekonomi, sosial yang stabil menyebabkan pengelolan kebun binatang dapat berkembang dengan baik, begitu juga sebaliknya, saat keadaan politik, ekonomi, sosial bermasalah maka pengelolan kebun binatang pun ikut mengalami fase penurunan.
Setelah mempelajari sejarah Kebun Binatang Bukittinggi ini, maka demi kemajuan institusi ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:
1. Kebun binatang seharusnya dikelola oleh orang-orang yang paham dengan binatang itu sendiri. Bahkan sedapat mungkin mereke memiliki latar belakang pendidikan dokter hewan. Dan untuk kelancaran institusi, pekerja yang dipilih adalah mereka yang memiliki loyalitas yang tinggi terhadap pekerjaanya dan mereka bekerja dengan nilai-nilai profesionalisme.
2. Pemerintah seharusnya menyediakan dana yang diperlukan oleh pengelola kebun binatang, hal ini mendukung pengembangan Kebun Binatang Bukittinggi kedepannya. Sehingga tidak ditemukan kesulitan-kesulitan dalam pengembangan institusi dari segi pendanaan.
3. Kebun binatang diberikan posisi dan kedudukan yang setara dengan dinas lainnya sehingga mendapat perhatian yang sama dari pemerintah.
4. Dalam menetapkan tarif karcis masuk kebun binatang pemerintah dan pengelola juga harus mampu melihat keadaan masyarakat, sehingga masyarakat tidak kecewa dengan pembiayaan yang memberatkan. Hal ini akan berdampak pada jumlah pengunjung, dan uang masuk dari Kebun Binatang Bukittinggi.
5. Pengelola harus mampu memberikan rasa nyaman, tenang, aman bagi pengunjung. Hal ini bisa terwujud dengan pengamanan yang baik dan penyediaaan sarana-sarana yang dibutuhkan di area kebun bintang.


Daftar Pustaka

Amir B, 2000, “Sejarah Sumatera Barat. Fakultas Ilmu Sosial”, UNP, Padang,

Azizah Etek, Syahril Tanjung, Yosmardin, Mursyid A.M, Nazief E.S, Reno Oktaviani,2004 “Dinamika Pemerintah Lokal Kota Bukittinggi”, Kerjasama Pemerintah Kota Bukittinggi Lembaga Pengembangan Masyarakat, Institut Ilmu Pengetahuan LPM-IIP, Bukittinggi.

Bappeda dan Badan Statistik Kota Bukittinggi, Bukittinggi dalam Angka 2002, Bukittinggi : Kerjasama Dinas Bappeda dan Badan Pusat Statistik.
.
Badan Pemurnian Sejarah Indonesia-Minagkabau, 1978, Sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Minangkabau 1945-1950, Jakarta : BPSIM.

Boestamam Iskandar, “Kesan dan Pengalaman Dikaitkan Sejarah Taman Bundo KanduangKodya Bukittinggi, Bukittinggi: Dinas Taman Bundo Kanduang, 1993.

Edison, “Taman Bundo KanduangBukittinggi 1980-1993”. Skripsi, Padang: Jurusan sejarah, Universitas Andalas, 1994.

Hardinoto, Paulus H Sohargo, ”Pengembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang”. Malang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat.

J. Pangklaykim dan Hazil Tanzil, Manajemen Suatru Pengatar, Jakarta. Ghalia Indonesia, 1982.

Marjani Martamin, “Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949”. Padang : Proyek investasi dan dokumentasi kebudayaan daerah. Pusat penelitian sejarah, Dep P dan K, 1979/1980.

Syafni Arita, ”Bukittinggi Kota Wisata Suatu Kajian Historis 1984-2000”. Skripsi, Padang: Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang, 2001.

Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005.

Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005

Zul Asri, 2001, “Bukittinggi 1945-1980, Perkembangan Kota Secara Fisik dan Hubungannya dengan Kepemilikan Tanah”, Tesis, Program Pasca Sarjana Ilmu Pengetahuan Budaya, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Depok.


.
.

BIODATA PENULIS


NAMA : IRWAN SETIAWAN. S.Pd.
TEMPAT / : PAKAN SINAYAN / 16 AGUSTUS 1981.
TGL LAHIR
*. Staf pengajar program studi pendidikan sejarah STKIP PGRI Sum-Bar. Tulisan dibuat berdasarkan skripsi penulis tentang Kebun Binatang Bukittinggi. Ditulis ulang untuk Jurnal Ilmiah “Suluah” BKNST Padang.

[1] J. Pangklaykim dan Hazil Tanzil, Manajemen Suatru Pengatar, Jakarta. Ghalia Indonesia, 1982. hal 39-40.
[2] Loc cit., hal 39-40
[3] Loc cit., hal 39-40
[4] Amir B, 2000, “Sejarah Sumatera Barat. Fakultas Ilmu Sosial”, UNP, Padang, hal 68-69.
[5] Amir B, op cit., hal 69.
[6] Zul Asri, 2001, “Bukittinggi 1945-1980, Perkembangan Kota Secara Fisik dan Hubungannya dengan Kepemilikan Tanah”, Tesis, Program Pasca Sarjana Ilmu Pengetahuan Budaya, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Depok, hal 23.
[7] Zul Asri, op cit, hal 45-46.
[8] Marjani Martamin, “Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949”. Padang : Proyek investasi dan dokumentasi kebudayaan daerah. Pusat penelitian sejarah, Dep P dan K, 1979/1980, hal 11-22.
[9] Boestamam Iskandar, “Kesan dan Pengalaman Dikaitkan Sejarah Taman Bundo KanduangKodya Bukittinggi, Bukittinggi: Dinas Taman Bundo Kanduang, 1993, hal 3.
[10] Ibid., hal 4.
[11] Edison, “Taman Bundo KanduangBukittinggi 1980-1993”. Skripsi, Padang: Jurusan sejarah, Universitas Andalas, 1994, hal 11.
[12] Azizah Etek, Syahril Tanjung, Yosmardin, Mursyid A.M, Nazief E.S, Reno Oktaviani,2004 “Dinamika Pemerintah Lokal Kota Bukittinggi”, Kerjasama Pemerintah Kota Bukittinggi Lembaga Pengembangan Masyarakat, Institut Ilmu Pengetahuan LPM-IIP, Bukittinggi, hal 33.
[13] Boestamam Iskandar,op cit, hal. 5.
[14] Edison, op cit. hal 12.
[15] Syafni Arita, ”Bukittinggi Kota Wisata Suatu Kajian Historis 1984-2000”. Skripsi, Padang: Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang, 2001. hal 5.
[16] Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005.
[17] Boestamam Iskandar,op cit, hal 4-5
[18] Hardinoto, Paulus H Sohargo, ”Pengembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang”. Malang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, hal 151.
[19] Ibid., hal 194.
[20] Boestamam Iskandar,op cit, hal 5.
[21] Edison, op cit. hal 13.
[22] Boestamam Iskandar,loc cit,
[23] Boestamam Iskandar,loc cit,
[24] Azizah Etek, Syahril Tanjung, Yosmardin, Mursyid A.M, Nazief E.S, Reno Oktaviani, op cit., hal 124.
[25] Edison, op cit. hal 14.
[26] Boestamam Iskandar,op cit, hal 38.
[27] Boestamam Iskandar,loc cit
[28] Edison, loc cit.
[29] Boestamam Iskandar,op cit, hal 6.
[30] Boestamam Iskandar,op cit, hal 6
[31] Boestamam Iskandar,loc cit
[32] Edison, op cit. hal 14-15
[33] Edison, loc cit.
[34] Edison, loc cit.
[35] Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005
[36] Bappeda dan Badan Statistik Kota Bukittinggi, Bukittinggi dalam Angka 2002, Bukittinggi : Kerjasama Dinas Bappeda dan Badan Pusat Statistik, Hal.xxxvi.
[37] Bappeda dan Badan Statistik Kota Bukittinggi, loc cit.
[38] Amir B, op cit., hal 95-111.
[39] Boestamam Iskandar,op cit, hal 39
[40] Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005
[41] Azizah Etek, Syahril Tanjung, Yosmardin, Mursyid A.M, Nazief E.S, Reno Oktaviani, op cit., hal 138-139.
[42] Edison, op cit. hal 16.
[43] Badan Pemurnian Sejarah Indonesia-Minagkabau, 1978, Sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Minangkabau 1945-1950, Jakarta : BPSIM., hal 121.
[44] Boestamam Iskandar,op cit, hal 39